Bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya. Data resmi yang dirilis Rabu (7/10/2026) menunjukkan People’s Bank of China (PBoC) membeli 740.000 troy ounce emas sepanjang September, setara sekitar 23 ton, sehingga total kepemilikan emasnya menjadi 77,47 juta ounce per akhir bulan. Ini menandai bulan ke-23 berturut-turut China menambah emas, sekaligus kenaikan bulanan terbesar sejak September 2023. Dalam satuan berat, 77,47 juta ounce setara sekitar 2.400 ton.
Pembelian September lebih besar dari Agustus yang naik 650.000 ounce dan Juli 640.000 ounce. Menurut pelacak pasar Wind Information, lonjakan terakhir kali sebesar ini terjadi pada September 2023, ketika cadangan emas PBoC bertambah 840.000 ounce. Stok emas China kini berada di level rekor baru.
Kenapa China Terus Borong Emas
China tidak melambat meski harga emas bergejolak. PBoC justru menambah pembelian saat harga turun, pola yang menurut sejumlah pengamat mencerminkan tujuan jangka panjang alih-alih mengejar momentum.
Li Changan, profesor di Academy of China Open Economy Studies, University of International Business and Economics, mengatakan penambahan emas penting bagi PBoC untuk mengoptimalkan struktur cadangannya. “Sifat investasi emas juga terus berkembang: dulu emas terutama dilihat sebagai lindung nilai inflasi, ke depan emas makin berperan sebagai lindung nilai risiko finansial dan geopolitik internasional,” katanya seperti dikutip Global Times.
Li menambahkan emas adalah alat pembayaran terakhir yang diterima secara universal. Pembelian oleh bank sentral, menurutnya, bisa memperkuat kredibilitas mata uang suatu negara dan menciptakan kondisi yang mendukung upaya internasionalisasi yuan secara hati-hati. Ia memperkirakan PBoC kemungkinan melanjutkan penambahan emas.
Di luar itu, dorongan diversifikasi dari aset berdenominasi dolar memainkan peran besar. Bank sentral di seluruh dunia memperluas cadangan emas di tengah risiko geopolitik yang meningkat dan upaya mengurangi ketergantungan pada aset dolar, seiring langkah China mendiversifikasi cadangan devisanya.
Nilai Cadangan Turun Meski Emas Ditambah
Ada paradoks di data September. Jumlah fisik emas bertambah, tapi nilai cadangan emas China justru turun menjadi US$323,52 miliar dari US$350,08 miliar sebulan sebelumnya. Penyebabnya: harga emas jatuh lebih dari 6% sepanjang September, sehingga menekan valuasi meski volume kepemilikan naik.
Sementara itu cadangan devisa China turun US$38,1 miliar atau 1,11% menjadi US$3,4 triliun (tepatnya US$3,4003 triliun), level terendah dalam enam bulan. State Administration of Foreign Exchange (SAFE) menyebut penurunan itu akibat kombinasi efek translasi kurs dan perubahan harga aset, karena indeks dolar AS menguat dan harga aset keuangan global secara umum turun. SAFE menegaskan kondisi tetap berada dalam jalur stabil.
Di pasar, harga emas spot berada di sekitar US$4.147 per ounce pada 7 Oktober, masih bertahan di atas US$4.000 setelah koreksi September dan masih jauh lebih tinggi dibanding awal tahun. Pembelian PBoC yang tak melambat dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas.
Dedolarisasi atau Bukan?
Narasi besar di balik pembelian bank sentral adalah pergeseran dari dolar. Data menunjukkan porsi emas dalam cadangan resmi global mencapai 27% pada akhir 2025, melampaui surat utang AS (22%) dan euro (15%). Untuk pertama kalinya sejak 1996, bank sentral dunia memegang lebih banyak emas ketimbang obligasi pemerintah AS. Porsi emas dalam cadangan bank sentral kini mendekati satu dari empat dolar, dari sekitar satu dari tujuh tiga tahun lalu.
Tapi klaim dedolarisasi perlu dibaca hati-hati. Data Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) dari IMF menunjukkan porsi dolar dalam cadangan devisa dunia justru naik ke 57,13% pada kuartal pertama 2026. Artinya, bank sentral menambah emas, tapi dolar belum sepenuhnya ditinggalkan.
Artinya Bagi Indonesia
Indonesia juga bergerak di tengah tren ini. Cadangan devisa Indonesia turun tipis menjadi US$146,3 miliar pada September 2026, dari US$146,5 miliar pada Agustus. Bank Indonesia menyebut posisi tersebut setara 5,3 bulan impor, masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan, dan dinilai cukup untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal. Rupiah tetap tertekan terhadap dolar, dengan USD/IDR diperdagangkan di sekitar 17.900.
Bagi investor ritel, gelombang bank sentral memborong emas sering dijadikan alasan memandang emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang, termasuk emas Antam di dalam negeri yang harganya biasanya mengikuti harga global dan pergerakan rupiah. Namun perlu diingat: pembelian bank sentral adalah strategi jangka sangat panjang, bukan sinyal untuk spekulasi jangka pendek, terlebih saat harga sedang turun lebih dari 6% dalam sebulan.
Apa yang Perlu Dipantau
Beberapa hal layak dicermati ke depan: apakah PBoC mempertahankan laju pembelian pada Oktober setelah tren kenaikan bulanan ini membesar; arah indeks dolar AS dan kebijakan The Fed yang menentukan valuasi cadangan emas dan devisa China; serta rilis cadangan devisa Indonesia berikutnya dan pergerakan USD/IDR. Selain itu, laporan permintaan emas bank sentral global akan menjadi konfirmasi apakah tren ini masih berlanjut sepanjang 2026.
Sumber
- China Daily — China posts biggest monthly gold reserve increase in 3 years
- Global Times — China extends gold purchases for 23rd straight month in September
- BigGo Finance — PBOC Extends Gold Buying Streak to 23 Months
- FXStreet ID — Rupiah Melemah saat Cadangan Devisa Turun pada September
- Financial Express — Gold Beats US Treasuries, Why Isn’t This De-Dollarization?


