Tech Pulse ID — Jensen Huang kembali menegaskan bahwa ledakan pendapatan Nvidia belum akan melambat tahun depan. Berbicara di konferensi Goldman Sachs Communacopia + Technology, Kamis (10/9), CEO Nvidia itu menyebut perusahaannya bisa tumbuh sekitar 70% secara year over year melalui akhir tahun depan — angka yang dia ulang setelah pertama kali disampaikan bulan lalu.
“Saya kira kami bisa tumbuh 70% year over year. Kami yakin soal itu,” kata Huang di hadapan peserta konferensi, seperti dilaporkan TechCrunch.
Besarannya tidak main-main. Analis memperkirakan Nvidia menutup tahun fiskal saat ini dengan pendapatan sekitar US$400 miliar, sehingga pertumbuhan 70% akan membawa perusahaan itu ke kisaran US$680 miliar tahun depan. Perlu digarisbawahi: ini proyeksi Huang alias guidance perusahaan, bukan angka yang sudah pasti terealisasi.
Kenapa Huang begitu yakin
Alasan utama Huang adalah posisi Nvidia yang menurutnya sudah menancap di hampir semua lapisan industri AI. Logikanya sederhana: kalau semua orang memakai produkmu, kamu bisa “melihat” ke mana arah pasar.
“Nvidia menjalankan setiap model. Setiap lab bisa memakai kami,” ujarnya. Dia menyebut cakupannya meluas mulai dari model-model Anthropic, OpenAI, dan Google sampai model open-weight. “Kami adalah foundational platform dari ekosistem AI, foundational platform dari industri AI.”
“Kami melacak setiap gigawatt tanah, daya, dan shell di seluruh dunia. Betul-betul semuanya di planet ini,” katanya. Istilah shell merujuk pada cangkang bangunan pusat data sebelum diisi komputer.
Dia menambahkan bahwa dirinya bisa mengetahui posisi pasar karena banyak pihak melapor balik ke Nvidia: berapa banyak neocloud, OEM, penyedia cloud, hingga perusahaan AI-native yang bekerja dengannya. “Kami bekerja dengan semua orang, jadi kami semacam tahu di mana semuanya berada,” ucap Huang.
Satu GPU bukan lagi US$399
Huang juga menyoroti perubahan skala produk Nvidia — dan sekaligus menjawab anggapan lama bahwa perusahaannya cuma jualan satu keping chip.
“Kebanyakan orang mengira Nvidia membuat sebuah chip. Maksud saya, kamu butuh pesawat terbang untuk mengirim barang yang kami buat.”
Menurutnya, satu GPU Nvidia kini bukan lagi perangkat konsumen seharga US$399 untuk menggenjot grafis PC. Satu unit kelas besar sekarang bernilai US$8,5 juta, tersambung lewat NVLink, terdiri dari 2 juta komponen, dan menyerap 250.000 kilowatt. “Itu satu GPU, dan kami mengirim ribuan di antaranya,” katanya.
Dari sisi pesanan, Huang menyebut satu produk yang menggabungkan 36 CPU Grace dengan 72 GPU Blackwell sedang mencatat pertumbuhan penjualan 27% bulan ke bulan.
Soal “circular deals”: US$1 masuk, US$100 balik
Pernyataan Huang tentang luasnya jangkauan Nvidia memicu pertanyaan soal apa yang disebut circular deals — praktik Nvidia menginvestasi di perusahaan yang lalu membeli produknya. Skema serupa pernah ikut andil dalam kejatuhan pemasok era pembangunan internet sebelumnya, seperti Lucent Technologies.
Huang menjawabnya dengan nada bercanda. “Yah, itu bukan sirkular karena kami menaruh uang sedikit, dan uang yang kembali banyak,” ujarnya. “Saya lihat spreadsheet-nya, kami setor US$1 dan US$100 kembali. Apa itu sirkular? Kalau iya, ayo kita lakukan lebih banyak.”
Di luar gaya bicaranya, Huang menegaskan Nvidia memastikan ada kontrak nyata yang menghasilkan pendapatan dari pelanggan sebelum menanam investasi. Secara total, dia mengaku telah melihat kontrak bernilai US$100 miliar. “Saya tidak mau ambil risiko. Saya butuh kepastian.”
Kompetisi datang dari segala arah
Optimisme itu muncul di tengah tekanan yang nyata. Ada kecemasan tak berujung soal apakah pesta Nvidia akan berakhir, karena kompetisi GPU dan chip AI kini datang dari banyak arah:
- Hyperscaler — Amazon, Microsoft, dan Google, yang masing-masing membangun chip sendiri.
- Lab AI — Anthropic dan OpenAI, yang juga mengembangkan silikon sendiri.
- Pesaing langsung — Cerebras yang baru melantai di bursa, hingga startup seperti Etched.
Meski begitu, Huang tetap ingin Nvidia dipandang lebih dari sekadar penjual chip. Dan soal kenyataan bahwa semua hal besar akhirnya terganggu, dia sendiri mengakui satu hal penting: saat ini banyak pertumbuhan AI ditopang perusahaan AI-native yang mengumpulkan dana raksasa dan membelanjakan sebagian besar kasnya untuk pemakaian AI mereka sendiri. Seiring industri AI matang, wajar kalau perusahaan menjadi lebih efisien dalam memakai infrastruktur dan token.
Untuk sekarang, Nvidia masih menancapkan jarinya di hampir semua pie industri AI — dan melihat satu tahun berlimpah lain di depannya. Waktu yang akan membuktikan apakah proyeksi 70% itu benar-benar terealisasi.
Catatan Tech Pulse ID
Angka 70% ini layak dibaca sebagai proyeksi manajemen, bukan janji. Yang menarik justru dasar argumennya: kekuatan Nvidia hari ini bukan cuma soal performa chip, tapi soal posisinya sebagai pusat informasi pasar — pemasok, operator cloud, sampai startup semuanya dalam rantai yang sama. Flip side-nya juga jelas dan Huang sendiri tidak menutupinya: kalau perusahaan-perusahaan besar mulai lebih efisien memakai token dan infrastruktur, atau kalau chip buatan sendiri dari hyperscaler dan lab AI makin matang, sumber pertumbuhan Nvidia bisa bergeser. Buat pembaca di Indonesia, implikasinya ada di sisi biaya: sepanjang permintaan GPU kelas ini tetap naik, harga sumber daya komputasi AI — termasuk yang menetes ke layanan cloud — masih akan ditentukan tarikan besar pasar global ini.


