Tech Pulse ID — Indonesia resmi masuk jajaran pemain infrastruktur AI kelas atas Asia Pasifik. Zankore, platform AI bentukan Indosat Ooredoo Hutchison bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia, menandatangani fasilitas pinjaman sindikasi senior hingga US$3,1 miliar untuk membangun AI Factory berkapasitas sampai 1 gigawatt (GW) di Indonesia. Kalau targetnya terpenuhi, ini bakal jadi salah satu infrastruktur AI terbesar di Asia Pasifik.
Pinjaman US$3,1 Miliar, Sindikasi Pertama Sebesar Ini di APAC
Fasilitas senilai US$3,1 miliar ini disebut sebagai transaksi sindikasi pertama dengan skala tersebut di Asia Pasifik, sekaligus salah satu pembiayaan infrastruktur AI terbesar di Asia. Ada lima bank yang duduk sebagai senior mandated lead arrangers, underwriters, dan bookrunners (SMLAUB): Citi, ING, Natixis CIB, Qatar National Bank (QNB) Group, dan United Overseas Bank (UOB).
Dana segar ini dipakai untuk akuisisi dan penyebaran infrastruktur GPU NVIDIA kelas atas, lalu disalurkan sebagai layanan cloud ke perusahaan AI-native, startup, developer, dan institusi di Indonesia maupun Asia Tenggara. Modelnya berbasis revenue-sharing dan dukungan kredit, sehingga kapasitas diselaraskan dengan permintaan pelanggan.
Skala pinjamannya bikin bank-bank besar ikut angkat bicara. Kaustubh Kulkarni, Head of Investment Banking Asia Pacific Citi, menyebutnya bukti besarnya modal dan kolaborasi untuk membangun infrastruktur AI generasi berikutnya, sementara Uday Sareen dari ING menilainya tonggak penting pembiayaan komputasi AI di pasar pinjaman sindikasi APAC.
1 GW, 200 MW di Semester I 2027, dan NVIDIA GB300 NVL72
Angka-angkanya cukup konkret. Zankore menargetkan kapasitas NVIDIA DSX AI Factory hingga 1 GW, dengan sekitar 200 megawatt (MW) kapasitas awal yang dijadwalkan hadir pada semester I 2027. Sementara proyek yang sedang dikembangkan saat ini dimulai dari 100 MW.
Tenaganya datang dari NVIDIA GB300 NVL72, yang dirancang untuk beban kerja AI training dan inference berperforma tinggi. Yang menarik, platform ini nantinya juga memakai NVIDIA DSX MaxLPS — teknologi yang mampu memulihkan daya “terbuang” alias stranded power, sehingga bisa menambah sampai 40 persen compute dalam anggaran daya yang sama. Di bisnis data center yang selalu dicekik pasokan listrik, klaim ini bukan hal kecil.
Vikram Sinha, Director dan Chairman Zankore, menyatakan AI sedang menciptakan peluang besar bagi Indonesia dan Asia Tenggara — dan pertanyaannya kini bukan apakah kawasan ini memakai AI, melainkan apakah kita membangun infrastrukturnya.
Siapa Bawa Apa ke Meja
Zankore bukan proyek satu perusahaan. Ooredoo Group menyuplai modal jangka panjang dan skala regional sebagai lead investor sekaligus platform sponsor. Indosat Ooredoo Hutchison membawa kepemimpinan pasar dan kemampuan infrastruktur digital. NVIDIA memasok komputasi terakselerasi, perangkat lunak AI, akses GPU generasi terbaru, dan ekosistem AI globalnya. Sementara Nokia menyediakan jaringan AI-native yang jadi tulang penghubung antar-komponen.
Zankore juga akan membentuk Board of Directors berisi perwakilan pemegang saham utama untuk pengawasan strategis dan tata kelola saat platform diperluas ke seluruh Asia Tenggara. Citi jadi penasihat keuangan Indosat, FTI Capital Advisors mewakili Ooredoo Group.
Kenapa Ini Penting buat Indonesia
Buat Indonesia, ini soal kedaulatan infrastruktur AI. Selama ini perusahaan dan startup lokal yang mau melatih model AI besar harus menyewa GPU dari luar negeri — mahal, antre, dan bergantung pada kebijakan negara lain. Kalau AI Factory ini berdiri, komputasi kelas atas tersedia di dalam negeri dengan akses yang lebih masuk akal.
“Dengan sumber daya dan talenta yang dimiliki Indonesia, ditambah keahlian global dan kemitraan strategis, kita bisa mempercepat pembangunan infrastruktur AI yang berdaulat dan bermanfaat bagi bisnis maupun masyarakat. Pemerintah sepenuhnya mendukung inisiatif yang memperkuat daya saing digital Indonesia sekaligus memastikan manfaat AI terdistribusi secara merata.” — Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia
Dampak lanjutannya ada di dua hal. Pertama, daya tarik investasi: kehadiran komputasi AI berskala besar biasanya menyeret perusahaan teknologi dan investor data center masuk lebih agresif. Khalid A. Al-Sada dari QNB menyebut langkah ini sejalan dengan ambisi Indonesia menjadi hub regional infrastruktur AI. Kedua, adopsi AI di tingkat perusahaan — Vikram Sinha menegaskan Zankore tidak sekadar menjual daya komputasi, tapi ekosistem lengkap, dari model seperti Sahabat-AI sampai kapabilitas jaringan seperti AI Grid dan AI-RAN.
Bagi startup dan developer lokal, akses ke GPU cluster untuk training dan inference kini bisa didapat di dalam negeri tanpa mengantre di penyedia luar — membuka ruang untuk produk AI yang selama ini batal dibuat karena mahalnya komputasi.
Yang Masih Jadi Tanda Tanya
Tidak semua hal transparan. Analis mencatat rilis perusahaan tidak menguraikan bagaimana pinjaman US$3,1 miliar itu dialokasikan — rilis mencampur proyek 100 MW yang sedang dikembangkan, target awal 200 MW, dan ambisi 1 GW, tanpa menyebut porsi pendanaan tiap fase. Detail jaminan (collateral) dan rincian model revenue-sharing serta dukungan kreditnya juga tidak disebutkan.
Jadi, target 1 GW-nya nyata dan pendanaannya sudah di tangan, tapi eksekusi bertahapnya masih harus dibuktikan: apakah sekitar 200 MW di semester I 2027 menyala sesuai jadwal.
Sumber
w.media — Indosat, Ooredoo, Nokia & NVIDIA partner to build 1GW AI factory in Indonesia


