Tech Pulse ID — RUU Clarity Act gagal lolos voting di Senat Amerika Serikat, dan pasar kripto langsung kena getahnya. Saham perusahaan kripto jadi yang paling babak belur: Coinbase anjlok hampir 9% ke US$174,42, sementara penerbit stablecoin Circle turun 9,4% ke US$88,26. Bitcoin ikut melorot mendekati US$75.000, dan XRP menjadi token dengan penurunan terburuk — hampir 10%.
Voting 49-50, Butuh 60 Suara
Senat menggelar voting Selasa sore waktu setempat: 49 suara setuju, 50 menolak. Angka itu jauh di bawah ambang 60 suara yang dibutuhkan untuk meloloskan cloture — istilah untuk voting prosedural yang menentukan apakah sebuah RUU boleh masuk tahap debat resmi. Karena cloture gagal, RUU bernomor H.R. 3633 ini praktis kehilangan peluangnya sepanjang 2026. Masih ada sekitar 22 hari kerja tersisa di kalender Senat sebelum agenda politik tersedot kampanye pemilu tengah masa jabatan.
RUU Digital Asset Market Clarity Act bertujuan menyusun aturan main bagaimana cryptocurrency dan proyek blockchain diperlakukan di AS, sekaligus memperbesar kewenangan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), regulator komoditas AS, atas pasar spot kripto.
Untuk lolos, pendukungnya butuh minimal tujuh senator Demokrat. Sebaliknya, sejumlah senator Republik ikut menolak.
Tiga Perdebatan Kunci yang Membuat RUU Ini Mandek
Pertama, kalangan bank mendesak aturan yang melarang perusahaan kripto memberi imbal hasil (yield) atas stablecoin, dengan alasan itu menarik dana nasabah keluar dari rekening bank konvensional. Delapan asosiasi perbankan mendorong pembatasan lebih ketat beberapa hari sebelum voting.
Kedua, Partai Demokrat menuntut aturan pencegahan konflik kepentingan yang lebih tegas, menyusul kepemilikan aset kripto pribadi Presiden Donald Trump. Ketiga, para pengembang perangkat lunak ingin perlindungan eksplisit agar tidak bisa dituntut pidana karena membangun perangkat non-kustodial, yaitu aplikasi yang tidak menyimpan dana pengguna.
Partai Republik sempat merilis draf revisi setebal 630 halaman pada Minggu malam, termasuk melunakkan aturan tanggung jawab pengembang dan menambah peran jaksa agung negara bagian dalam pengawasan etika. Upaya itu tetap tidak cukup menggaet Demokrat.
Dua Suara yang Berseberangan
Senator Cynthia Lummis dari Wyoming, negosiator utama Partai Republik, memperingatkan sebelum voting bahwa kegagalan bisa bersifat final. Ia menyebut Republik sudah memenuhi lebih dari 120 perubahan yang diminta Demokrat dalam setahun terakhir.
Di sisi lain, Senator Elizabeth Warren, ranking member Komite Perbankan Senat, berpidato menentang RUU ini dan memperingatkan regulasi itu bisa memicu “keruntuhan ekonomi yang dipicu kripto”.
Senator Elissa Slotkin, Demokrat dari Michigan, menjelaskan alasannya menolak: “Ketentuan etika dalam RUU ini terlalu tipis,” ujarnya, merujuk pada Presiden Donald Trump, anak-anaknya, dan jajaran kabinetnya yang disebut meraup uang di sektor kripto. Ia juga menilai CFTC kekurangan staf untuk menjalankan aturan ini dan menyoroti celah soal pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Saham Kripto Jatuh Lebih Dalam dari Token
Sektor saham kripto nyaris seragam merah. Selain Coinbase dan Circle, Galaxy Digital turun 8% dan Gemini 7%. Bullish dan Riot Platforms masing-masing kehilangan 5%, eToro turun 4%, sedangkan Robinhood, MARA Holdings, CleanSpark, IREN, dan Core Scientific terperosok di kisaran 3% sampai 4%. Saham-saham ini tertekan lebih dalam dibanding aset kriptonya sendiri — pelaku pasar menilai kepastian regulasi lebih penting bagi valuasi perusahaan ketimbang harga token.
Kenapa Bitcoin dan XRP Ikut Terjun?
XRP turun hampir 10% ke US$1,30, yang terburuk di antara token besar. Ether turun hampir 5% ke sekitar US$2.410, solana turun 5% ke sedikit di atas US$97, dogecoin melemah hampir 5%, sedangkan Zcash dan HYPE masing-masing turun sekitar 4%. Bitcoin turun hampir 3% ke sedikit di atas US$76.000, setelah sempat menyentuh US$75.600 dan meninggalkan puncak September di kisaran US$82.000. BNB dan tron paling tahan dengan penurunan sekitar 1%.
Gelombang ini juga menyapu posisi long senilai US$570 juta. Dalam bahasa awam, posisi long adalah taruhan bahwa harga akan naik. Ketika harga justru turun, posisi itu ditutup paksa secara otomatis oleh platform — proses inilah yang disebut likuidasi. Semakin dalam penurunannya, semakin banyak posisi yang tersapu.
Voting Senat bukan satu-satunya penyebab. Pelaku pasar juga memangkas risiko menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve, dengan trader condong memperkirakan kenaikan seperempat poin. Nasdaq dan S&P 500 pun di zona merah.
Sebagian pasar sudah mengantisipasi ini. Peluang Clarity Act jadi undang-undang pada 2026 di Polymarket turun ke 17% pada Selasa pagi, dari sekitar 34% pada Senin, setelah Republik menolak tawaran balik Demokrat beberapa jam sebelum voting.
Setelah Ini, Apa yang Tersisa?
Perhatian kini bergeser ke regulator. Securities and Exchange Commission (SEC) sedang menyiapkan kerangka Reg Crypto dan aturan sekuritas yang ditokenisasi — kini satu-satunya jalur menuju kepastian regulasi yang diinginkan industri dari Kongres. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut proses rulemaking SEC dan CFTC sebagai opsi cadangan jika legislasi tersendat.
Digital Chamber menyebut hasil voting sebagai “kemunduran”, bukan kekalahan, dan tetap berkomitmen mendorong regulasi aset digital yang menyeluruh. Komite aksi politik industri seperti Fairshake kini harus memutuskan bagaimana memperlakukan senator yang menolak, menjelang pemilu 3 November. Kongres baru bersidang Januari 2027.


