Laporan Eropa Peringatkan Risiko Tabrakan Orbit saat Jumlah Satelit Sentuh 17.000
Orbit Bumi makin padat. Sekitar 17.000 satelit aktif kini mengelilingi Bumi, berdasarkan data CelesTrak. Sebuah laporan baru dari Eropa memperingatkan bahwa angka itu tidak berhenti bertambah, dan pola pertumbuhannya mulai membawa lingkungan orbit ke arah yang sulit dikendalikan.
Peringatan itu datang dari Badan Antariksa Eropa (ESA) lewat laporan lingkungan antariksa tahunannya, yang sudah diterbitkan selama satu dekade terakhir sebagai potret transparan aktivitas antariksa global sekaligus penilaian atas upaya menjaga keberlanjutan penerbangan antariksa. Tahun ini, nada laporannya berubah.
Dari 1.000 ke 17.000 satelit
Saat film Gravity — fiksi ilmiah rilisan 2013 yang dibintangi Sandra Bullock dan George Clooney — tayang di bioskop, hanya ada sekitar 1.000 satelit aktif di orbit. Premis film itu, rangkaian tabrakan beruntun yang membuat orbit begitu penuh puing sampai tak lagi bisa dipakai, ternyata bukan karangan Hollywood: gagasan itu pertama kali diajukan ilmuwan NASA, Donald Kessler dan Burton Cour-Palais, hampir setengah abad lalu.
Pertumbuhan terbesar datang dari konstelasi Starlink milik SpaceX, yang kini punya sekitar 11.000 satelit di orbit, dengan ribuan lagi menyusul. SpaceX tidak sendirian. Amazon sudah meluncurkan ratusan satelit dengan ribuan lainnya menunggu, sementara beberapa konstelasi internet milik Tiongkok juga sedang dibangun. Belum lagi kategori baru: pusat data orbital, yang berpotensi menghasilkan ratusan ribu satelit.
Proyeksi ESA naik drastis
Dalam laporan edisi terbaru, ESA menaikkan proyeksi jumlah objek di orbit secara signifikan setelah menilai ulang lintasan konstelasi besar saat ini.
“Kenaikan mencolok pada indeks tahun ini terutama didorong oleh populasi masa depan yang jauh lebih besar dari skenario ekstrapolasi saat ini. Pengaruh konstelasi besar yang terus tumbuh menyoroti keterbatasan pendekatan mitigasi tradisional ketika diterapkan pada lalu lintas masa depan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.” — Laporan Lingkungan Antariksa ESA
Laporan itu juga memodelkan sejumlah skenario. Dengan asumsi peluncuran satelit terus meningkat — tren yang jauh paling mungkin terjadi — orbit tetap akan jauh lebih padat, bahkan bila operator menjalankan praktik terbaik dalam menyingkirkan satelit tua dan menghindari tabrakan.
“Ekstrapolasi dari perilaku kita saat ini mengarah pada lingkungan yang tidak stabil dengan laju tabrakan yang meningkat secara eksponensial,” tulis laporan tersebut. Dalam bahasa teknisnya yang presisi, ESA praktis mengatakan bahwa kita sedang berada di jalur yang bisa berujung pada sesuatu seperti sindrom Kessler. Simulasi mereka menunjukkan kurva tabrakan kumulatif di orbit rendah Bumi yang mulai terlihat mencemaskan menjelang pertengahan abad.
Satu catatan penting: proyeksi laporan ESA 2026 belum memasukkan kategori pusat data orbital, karena proyek-proyek itu masih dianggap “sedang dipersiapkan” untuk peluncuran. Jika mega-konstelasi pusat data di antariksa terbukti layak secara ekonomi, ia bisa menjadi titik kritis terakhir bagi keberlanjutan orbit.
Antariksa itu luas, atau tidak?
Seberapa buruk situasinya tetap bergantung pada siapa yang ditanya. Salah satu pakar puing orbit dunia, profesor Moriba Jah dari University of Texas at Austin, sebelumnya menyampaikan kekhawatiran besarnya kepada Ars Technica. Menurutnya, kapasitas tampung orbit rendah Bumi akan tersaturasi oleh objek dan sampah, dan ia memprediksi akan ada korban jiwa — baik dari objek sebesar bus sekolah yang bertahan melewati reentry dan menghantam kawasan berpenduduk, maupun dari astronaut sipil dan komersial yang kendaraannya tertabrak puing tak terprediksi. Jah memprediksi keduanya terjadi dalam satu dekade ke depan.
Di ujung spektrum lain ada pendiri SpaceX, Elon Musk. Sikapnya selama ini: antariksa itu sangat luas, jadi kemungkinan besar semuanya akan baik-baik saja. Dalam wawancara yang diproduksi SpaceX musim panas lalu di pabrik terminal Starlink perusahaan itu di Bastrop, Texas, Musk menilai kita tidak perlu khawatir soal orbit menjadi sesak, karena satelit begitu kecilnya sehingga relatif terhadap Bumi tak terlihat oleh mata.
Yang terjadi hari ini memang belum berupa kiamat orbit. SpaceX sendiri giat menurunkan satelit yang kehilangan fungsi dan bermanuver menghindari tabrakan — tugas tak berpreseden dalam skala yang belum pernah dicoba pemerintah atau perusahaan mana pun. Laporan wajib ke Federal Communications Commission (FCC) menunjukkan konstelasi mereka dulu hanya melakukan sekitar 500 manuver per bulan; pada periode pelaporan terbaru hingga Mei 2026, jumlahnya melompat menjadi hampir 35.000 per bulan, atau satu manuver setiap 75 detik.
Angka itu perlu dibaca dengan tepat: setiap manuver bukan berarti “nyaris tabrakan”. SpaceX hanya menurunkan ambang probabilitas untuk bergerak. Tetapi lonjakan manuver sebesar itu tetap menjadi cermin dari lalu lintas orbit yang kian padat — dan bagi ESA, itu alasan untuk tidak lagi menganggap ruang di atas kepala kita sebagai tempat yang tak terbatas.


