Roket Nuri milik Korea Selatan kembali membuktikan keandalannya. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, pukul 12.25 siang waktu setempat, roket buatan dalam negeri itu melesat dari Naro Space Center di Goheung, sekitar 400 kilometer selatan Seoul, dan mengantar belasan satelit ke orbit Bumi. Ini penerbangan kelima Nuri, sekaligus kesuksesan keempat berturut-turut sejak 2022.
Misi kali ini jadi yang paling rumit sepanjang sejarah Nuri, dengan 15 satelit sekaligus, jumlah terbesar yang pernah dibawa dalam satu peluncuran. Lima satelit utama adalah NEONSAT (New-space Earth Observation Satellite Constellation for National Safety), satelit pengamat Bumi berukuran kecil yang menjadi cikal bakal konstelasi pertama Korea Selatan, ditambah 10 CubeSat sebagai muatan sekunder.
Menurut Korea AeroSpace Administration (KASA), kelima NEONSAT bernomor 2 sampai 6 berhasil dilepas satu per satu ke orbit target, dan sembilan dari 10 CubeSat juga sukses terpisah. Satu CubeSat, PERSAT-02 buatan perusahaan rintisan Korea, Quaternion, gagal keluar dari dispenser karena tutupnya tidak terbuka. Artinya, 14 dari 15 satelit benar-benar sampai di orbit. Angka ini sedikit berbeda dengan laporan awal kantor berita SBS yang menyebut seluruh 15 satelit berhasil dipisahkan; Yonhap, The Korea Times, dan KARI sendiri mengonfirmasi angka 14.
Nuri, roket 200 ton dan misi terumitnya
Nuri, nama resminya Korea Space Launch Vehicle-II (KSLV-II), adalah roket tiga tingkat berbobot sekitar 200 ton yang seluruh teknologinya dikembangkan Korea Selatan. Peluncuran kelima ini menandai pertama kalinya Nuri melepas beberapa satelit utama untuk satu misi yang sama secara berurutan.
Setelah dua tingkat pertama bekerja normal, tingkat ketiga Nuri memadamkan mesinnya dan mulai melepas muatan di ketinggian sekitar 575 kilometer. Kriteria keberhasilan pelepasannya adalah 570 kilometer plus-minus 15 kilometer. Untuk menghindari tabrakan antarsatelit, tingkat atas Nuri mengubah sikapnya sekitar 30 hingga 60 derajat agar tiap satelit terlepas ke arah berbeda. Lima NEONSAT dilepas dengan jeda 35 sampai 40 detik, lalu CubeSat dilepas berpasangan setiap 10 detik.
Tiap NEONSAT berbobot kurang dari 100 kilogram dan dibekali kamera elektro-optik yang mampu memotret permukaan dengan resolusi 1 meter (hitam-putih) dan 4 meter (warna). Satelit-satelit ini akan memantau Semenanjung Korea dan perairan sekitarnya untuk keperluan keamanan nasional serta penanggulangan bencana. Pengembangan lima satelit kelompok ini dikoordinasikan oleh KAIST. Salah satu muatan khusus dalam misi ini adalah modul verifikasi AI bernama ArbaEdge dari ArbaLabs, infrastruktur yang diklaim mampu membuktikan secara mandiri apa yang dijalankan sebuah model AI. Modul ini bekerja lokal tanpa koneksi awan dan dirancang dengan prinsip adaptasi NASA.
Arti bagi kemandirian antariksa Korea Selatan
Keberhasilan ini krusial karena Nuri membuktikan Korea Selatan mampu melepas banyak satelit sekaligus dari satu roket, kemampuan penting untuk membangun konstelasi satelit produksi massal. Penerbangan pertama Nuri pada 2021 sempat gagal setelah mesin tingkat ketiga mati lebih cepat; sejak itu roket ini sukses empat kali beruntun, menaikkan tingkat keberhasilannya dari 75 menjadi 80 persen.
Menurut Oh Tae-seog, Kepala KASA, keberhasilan melepas lima satelit pemerintah dalam satu roket menunjukkan kemampuan Korea memproduksi satelit massal dan mengoperasikannya sebagai konstelasi. Selain itu, keterlibatan Hanwha Aerospace yang memperluas perannya dalam operasional peluncuran menandakan pergeseran menuju industri antariksa yang lebih terintegrasi dengan sektor swasta.
Konteks industri antariksa Asia, termasuk Indonesia
Nuri menempatkan Korea Selatan di jajaran negara Asia yang ingin mandiri soal peluncur. Jepang punya H3, India mengandalkan seri PSLV dan GSLV milik ISRO, sementara China dan Korea sudah rutin meluncurkan satelitnya sendiri. Yang membedakan Nuri adalah statusnya sebagai roket yang dikembangkan sendiri oleh negara berpendapatan menengah, bukan sekadar pengguna jasa peluncuran asing.
Indonesia sendiri masih berada di jalur berbeda. Satelit komunikasi terbesar kita, SATRIA-1, diluncurkan pada Juni 2023 dengan menumpang roket Falcon 9 milik SpaceX dari Cape Canaveral, Amerika Serikat, bukan roket buatan dalam negeri. Satelit senilai sekitar 540 juta dolar AS itu dioperasikan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) untuk pemerintah, dengan kapasitas 150 Gbps untuk melayani sekitar 150.000 fasilitas publik. Sementara itu, aspirasi membangun roket sendiri lewat program Roket Pengorbit Satelit (RPS) yang digarap BRIN masih dalam tahap pengembangan dan belum sampai orbit. Inilah ironi kawasan: selagi Korea sudah bisa menumpuk 15 satelit di satu roket, sejumlah negara termasuk Indonesia masih bergantung pada peluncur asing.
Apa berikutnya
Nuri tidak berhenti di sini. Lima NEONSAT berikutnya dijadwalkan terbang pada penerbangan keenam Nuri pada paruh kedua 2027 untuk melengkapi konstelasi 10 satelit. Setelah semua satelit beroperasi, konstelasi ini diharapkan mampu memotret Semenanjung Korea setidaknya tiga kali sehari dan kembali melintasi lokasi yang sama dalam 24 jam, sangat berguna saat terjadi bencana. KARI juga masih menyelidiki mengapa dispenser CubeSat PERSAT-02 gagal membuka.
Jika ritme ini terus berlanjut, Nuri berpotensi menjadi tulang punggung layanan peluncuran komersial Korea Selatan, langkah yang akan mengubah peta persaingan industri antariksa Asia dalam beberapa tahun mendatang.
Sumber
- SBS News — News Briefing: Nuri Rocket’s 5th Launch a Success, All 15 Satellites Deployed
- Yonhap — Nuri rocket deploys 5 satellites for S. Korea’s first microsatellite constellation
- The Korea Times — Nuri rocket deploys 14 satellites, 1 CubeSat fails to release
- ArbaLabs — ArbaEdge in Orbit (NURI / SD-1 Sat)


