NASA resmi membuka babak baru bagi orbit rendah Bumi. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, badan antariksa Amerika Serikat itu merilis permintaan proposal (Request for Proposals/RFP) final untuk stasiun antariksa komersial yang akan menggantikan International Space Station (ISS) setelah pensiun sekitar 2030. Dokumen itu menjadi penanda peralihan resmi dari tahap konsultasi ke lelang terbuka.
Perusahaan kedirgantaraan Amerika diberi waktu hingga Selasa, 8 Desember 2026 untuk menyerahkan proposal mereka. NASA memperkirakan pengumuman pemenang pada musim semi 2027. Dalam surat pengantar RFP, lembaga itu menyatakan tujuannya: memastikan NASA punya kehadiran manusia berkelanjutan di orbit rendah Bumi untuk riset dan eksplorasi.
Kenapa NASA beralih ke stasiun komersial
ISS sudah beroperasi lebih dari dua dekade dan dijadwalkan pensiun sekitar 2030, sebagaimana tercatat dalam sejumlah dokumen pengawasan NASA. Alih-alih membangun penerusnya sendiri, NASA memilih membeli layanan dari stasiun yang dimiliki dan dioperasikan perusahaan swasta. Dengan begitu, anggaran dan tenaga ahli badan itu bisa dialihkan ke target yang lebih jauh: misi Artemis ke Bulan dan eksplorasi manusia ke Mars.
Administrator NASA Jared Isaacman menegaskan lembaganya tidak akan melepas orbit rendah Bumi. Namun ia juga memasang syarat tegas bahwa proyek ini harus sehat secara ekonomi.
“The opportunity is significant, but the economics ultimately have to work.” — Jared Isaacman, Administrator NASA
Konteks geopolitik ikut mendorong arah ini. Selama ini ISS adalah proyek kemitraan internasional, termasuk dengan Rusia. Saat masa operasionalnya berakhir, pola kemitraan itu memasuki babak akhir, dan NASA ingin memastikan adanya fasilitas Amerika yang berdiri sendiri di orbit.
Beda dengan model sebelumnya
Model lama bertumpu pada Space Act Agreements, di mana NASA ikut mendanai pengembangan awal beberapa konsep stasiun. Kini pendekatannya berubah menjadi pengadaan federal penuh melalui kompetisi terbuka. NASA memposisikan diri sebagai salah satu penyewa, bukan pemilik sekaligus pengelola stasiun.
Sempat muncul wacana modul inti milik pemerintah yang bisa disandari operator swasta, karena kekhawatiran pasar belum cukup besar. Industri menolak usulan itu, dan pada Juli 2026 NASA kembali ke rencana semula: membeli layanan melalui kompetisi terbuka.
Apa yang diminta RFP
NASA mencari perusahaan yang mampu merancang, membangun, menguji, mensertifikasi, dan mengoperasikan destinasi komersial di orbit rendah Bumi, lengkap dengan layanan tujuan dan transportasi bagi penerbangan antariksa berawak. Kontrak yang dipakai berjenis firm-fixed-price, multi-award, dan indefinite-delivery/indefinite-quantity.
Skemanya bertahap. NASA akan memilih dua kontraktor atau lebih untuk masuk fase pengembangan awal, lalu membuka kompetisi terpisah berupa task order untuk desain final, pengujian, evaluasi, sertifikasi, dan layanan. Pemenang fase awal dijamin mendapat minimal US$100 juta, sementara fase-fase berikutnya berpotensi bernilai miliaran dolar. Fase lanjutan mencakup pembelian setidaknya empat misi astronot NASA ke stasiun swasta tersebut.
NASA juga melonggarkan salah satu hambatan terbesar bagi pelamar: mereka tidak wajib melampirkan kontrak atau surat niat dari penyedia transportasi. Badan itu bahkan menawarkan menyediakan transportasi untuk empat misi layanan pertama, dan memperkirakan biaya satu penerbangan kru empat kursi pada 2030 sekitar US$325 juta, sedangkan penerbangan kargo sekitar US$300 juta.
Tantangan: pendanaan dan pasar
Masalah transportasi masih membayangi. SpaceX berencana memensiunkan Crew Dragon dan sejauh ini belum menawarkan kursi langsung ke operator stasiun swasta. Sebagai penyeimbang, NASA menambah US$359 juta untuk mendukung sertifikasi Starliner milik Boeing.
Di sisi pendanaan, anggaran NASA tahun ini menyediakan sekitar US$272 juta untuk program ini, dengan rencana sekitar US$2,1 miliar selama lima tahun ke depan. Jumlah itu jauh dari cukup bila stasiun harus hidup hanya dari kontrak pemerintah. Karena itu Isaacman berulang kali menekankan perlunya perusahaan menggaet pelanggan di luar NASA, termasuk peneliti swasta dan pemerintah negara lain.
Ujian terbesarnya adalah pasar riset mikrogravitasi. Belum ada bukti permintaan komersial di orbit akan cukup besar untuk menopang beberapa stasiun sekaligus. Ada pula risiko jeda antara pensiunnya ISS dan mulai beroperasinya stasiun baru, sebuah celah yang bisa menghentikan riset Amerika di orbit untuk sementara waktu.
Siapa yang mungkin melamar
Sejumlah nama telah lama bersiap. Axiom Space, Voyager Space lewat stasiun Starlab, dan Vast Space (Haven-1/Haven-2) diprediksi ikut bersaing. Blue Origin memenangi putaran pendanaan sebelumnya, meski komitmennya terhadap program ini masih dipertanyakan, sementara SpaceX untuk sementara diperkirakan tidak ikut.
Dengan tenggat 8 Desember 2026 dan pengumuman pemenang pada musim semi 2027, setahun ke depan akan menentukan wajah orbit rendah Bumi setelah era ISS berakhir.
Sumber
- NASA — “NASA Seeks US Industry Plans for Commercial Space Stations” (9 Oktober 2026): https://www.nasa.gov/news-release/nasa-seeks-us-industry-plans-for-commercial-space-stations/
- Ars Technica — “NASA issues long-awaited call to industry for private space stations” (10 Oktober 2026): https://web.archive.org/web/20261010210100/https://arstechnica.com/space/2026/10/nasa-issues-long-awaited-call-to-industry-for-private-space-stations/
- Bloomberg Government — “NASA Seeks Proposals for Commercial Space Stations” (9 Oktober 2026): https://news.bgov.com/federal-contracting/nasa-seeks-proposals-for-commercial-space-stations
- Space.com — “NASA will say goodbye to the International Space Station in 2030 and welcome in the age of commercial space stations” (13 Oktober 2025): https://www.space.com/space-exploration/international-space-station/nasa-will-say-goodbye-to-the-international-space-station-in-2030-and-welcome-in-the-age-of-commercial-space-stations


