Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data terbaru aktivitas aset kripto Indonesia untuk Juli 2026. Hasilnya: nilai transaksi turun 28,2 persen secara bulanan (month-to-month) menjadi Rp 20,52 triliun.
Angka itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Agustus, Senin (7/9/2026).
Transaksi Derivatif Ikut Turun
Tidak hanya pasar spot, segmen derivatif juga melemah. OJK mencatat nilai transaksi derivatif aset keuangan digital (AKD) sebesar Rp 3,41 triliun pada Juli 2026, turun 18,52 persen secara bulanan.
Kendati nilainya turun, Adi menilai pergerakan ini lebih banyak mengikuti dinamika dan fluktuasi nilai transaksi aset kripto global, bukan sinyal hilangnya minat dari investor ritel domestik.
Akun Konsumen Justru Naik
Menariknya, jumlah pengguna justru bertambah. Per Juli 2026, OJK mencatat 22,93 juta akun konsumen aset kripto di Indonesia — tumbuh 1,03 persen secara month-to-month.
Ini mengindikasikan bahwa meski volume nilai transaksi menyusut, basis pengguna domestik terus meluas. Artinya, lebih banyak orang masuk ke ekosistem kripto, namun nilai per transaksinya lebih kecil atau lebih jarang terjadi.
“Kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto di Indonesia secara umum masih terjaga dan menunjukkan perkembangan yang positif,” ujar Adi.
Bukan Sinyal Negatif
Penurunan nilai transaksi bukan berarti ekosistem melambat permanen. Di awal 2026, pasar kripto global sempat bergerak naik seiring membaiknya sentimen institusi, lalu koreksi harga membuat nilai transaksi ikut tertekan. Pola ini konsisten dengan apa yang disebut Adi: transaksi mengikuti fluktuasi nilai aset.
Bagi investor, data OJK ini jadi penanda dua hal sekaligus:
- Volume turun — aktivitas beli-jual mendingin seiring koreksi harga; dan
- Adopsi naik — jumlah akun tetap bertumbuh, tanda basis pengguna Indonesia makin besar.
Kombinasi keduanya menunjuk pada pasar yang sedang dalam fase santai dari sisi nilai, tetapi makin matang dari sisi jumlah peserta. Karena itu, OJK tetap menekankan pentingnya literasi dan perlindungan konsumen di tengah volatilitas yang berjalan.
Sumber: detikFinance — Nilai Transaksi Aset Kripto RI Turun 28% Jadi Rp 20,52 Triliun · CNBC Indonesia


