Tech Pulse ID — Bank for International Settlements (BIS) melontarkan peringatan yang cukup keras soal euforia AI. Kepala BIS Pablo Hernandez menyebut lonjakan investasi AI yang makin banyak dibiayai utang bisa mengancam stabilitas keuangan kalau imbal hasilnya tidak sesuai ekspektasi.
Intinya bukan “AI bubble pasti pecah”. Yang disorot BIS lebih spesifik: siapa yang menanggung risikonya kalau janji profit AI tidak terwujud — karena capex AI sekarang tumbuh lebih cepat dari arus kas perusahaan yang membiayainya.
Capex AI makin jauh di atas arus kas
Hernandez menyoroti bahwa belanja modal perusahaan AI terbesar kini makin melampaui arus kas mereka, dan sebagian dibiayai lewat utang serta private credit dalam sebuah “arms race” antar perusahaan besar.
Angkanya besar. Lima perusahaan teknologi terbesar saja diperkirakan membelanjakan lebih dari US$1 triliun untuk proyek AI sepanjang 2025–2026. Investasi AI global diproyeksikan naik dari sekitar US$500 miliar saat ini menjadi US$3–4 triliun pada 2030.
Bridgewater Associates mencatat Microsoft, Alphabet, Meta, dan Amazon — dengan kapitalisasi pasar gabungan sekitar US$12 triliun — diperkirakan menggelontorkan US$650 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini saja.
Pembanding sejarah: dari canal mania sampai dot-com
Hernandez menarik perbandingan dengan beberapa boom teknologi sebelumnya: canal mania tahun 1830-an, railway mania Inggris 1840-an, boom elektrifikasi 1920-an, dan lonjakan dot-com akhir 1990-an. Semuanya berdiri di atas terobosan teknologi yang nyata.
All drew in more capital than eventual returns could justify. In each of these cases, the eventual correction that followed had economy-wide implications.
Artinya: teknologi aslinya memang penting, tapi modal yang masuk bisa jauh melebihi imbal hasil yang akhirnya bisa dibenarkan. Dan koreksinya tidak berhenti di perusahaan yang salah, tapi merembet ke ekonomi secara luas.
Kenapa risikonya bisa menular lintas negara
BIS menyoroti bahwa pembuat chip, hyperscaler, dan perusahaan AI kini saling terhubung lewat skema pembiayaan yang opak dan sulit dinilai. Kalau ekspektasi profit masa depan melemah, sistem keuangan ikut terekspos.
Risikonya merambat lewat dua jalur. Pertama, saham AI sangat terkonsentrasi, jadi pembalikan harga bisa menekan belanja rumah tangga. Kedua, karena saham AS punya bobot besar di pasar ekuitas global, koreksi di sana bisa menyebar ke luar AS. Hernandez juga menyebut di beberapa yurisdiksi, lonjakan ekspor terkait AI berpotensi ikut membentuk gelembung aset domestik.
BIS tidak sedang memprediksi bubble
Penting dicatat: Hernandez tidak memprediksi AI bubble akan pecah. Dia justru menegaskan potensi AI itu nyata, termasuk bukti peningkatan produktivitas di bidang coding, konsultasi, dan penulisan profesional.
I do not say that this is where the AI boom must lead. But the scale and speed of the current investment boom, and the weight of expected commercial returns, do warrant some caution.
Dia juga menambahkan bahwa AI tidak mengubah mandat bank sentral — meski bisa membuat ekonomi global lebih sulit dibaca dan dipantau.
Catatan Tech Pulse ID
Peringatan BIS ini menarik karena datang dari sisi yang biasanya paling konservatif: lembaga yang mengurus stabilitas sistem keuangan global, bukan analis pasar yang cari sensasi. Inti pesannya sederhana — kalau capex AI dibiayai utang dan skema pembiayaannya opak, risikonya bukan cuma milik perusahaan AI itu sendiri.
Untuk konteks Indonesia, ini relevan secara tidak langsung. Gelombang investasi AI global menentukan harga chip, biaya komputasi, dan arah pendanaan startup di kawasan. Kalau koreksi terjadi, dampaknya biasanya terasa lebih dulu di pasar modal dan pendanaan, sebelum sampai ke sisi pengguna. Yang pantas dipantau: seberapa transparan struktur pembiayaan AI, dan apakah pertumbuhan pendapatan benar-benar mengejar belanja modalnya.


