China Pacu Industri Video AI
China tidak lagi sekadar bereksperimen dengan video hasil AI. Menurut data National Radio and Television Administration yang diolah pengamat industri Kobayashi Nobuyoshi, sekitar 430.000 micro-drama dirilis pada Januari–Agustus 2026 — kira-kira 13 kali lipat total sepanjang 2025. Lebih dari 90% di antaranya diproduksi dengan AI, setara sekitar 1.600 AI short drama baru setiap hari.
Ini bukan lagi skala uji coba. Produksi video berubah jadi semacam industri perangkat lunak: skrip, karakter, video, dan audio digenerate, lalu didistribusikan sebagai drama vertikal.
Dari 5.000 Yuan Jadi Beberapa Ratus Yuan per Menit
Pendorong utamanya adalah biaya. Menurut CCTV, pada paruh pertama 2026 biaya produksi satu menit short drama AI turun dari 5.000 yuan (sekitar US$747) menjadi hanya beberapa ratus yuan.
Xiaojun, mahasiswa magister penyutradaraan film di Pulau Hainan, memberi contoh: adegan pernikahan yang biasanya menelan 60.000 yuan secara tradisional bisa ia rekonstruksi dengan AI hanya dengan 1.400 yuan. Subsidi dan pembebasan sewa pemerintah daerah, katanya, menekan biaya komputasi lebih jauh.
Caixin melaporkan dengan hadirnya Seedance 2.0 milik ByteDance, biaya produksi sebagian AI short drama turun di bawah 20.000 yuan. Short drama live-action berkualitas tinggi sebelumnya menelan sekitar 1,5 juta yuan; versi simulasi AI bisa ditekan hingga di bawah 200.000 yuan.
Subsidi Daerah dan Perang Menarik Studio
Zhu Zhili, sutradara video AI, memilih Shenzhen dua tahun lalu sebagai basis studionya. Kini ia mengaku dihubungi perwakilan kota dan kawasan industri hampir setiap hari.
Berbagai kota menghubungi saya setiap hari — dari kota besar sampai kota kecil. Mereka berharap kami membuka bisnis atau perusahaan teknologi di sana. — Zhu Zhili
Shanghai pada Mei memperkenalkan langkah pengembangan short drama berbasis AI, lengkap dengan daya komputasi dan model cloud untuk menekan biaya dan membantu produser masuk pasar luar negeri. Beijing menyiapkan dana 260 juta yuan untuk teknologi audiovisual, Huairou menawarkan voucher komputasi, dan Shenzhen memberi dukungan teknis produksi, visual effects, serta sewa bersubsidi.
Platform streaming iQIYI ikut bergerak: pada Agustus, CEO Gong Yu menyatakan perusahaan sepenuhnya berkomitmen pada AI dan menjanjikan subsidi bagi sejumlah kreator konten di platformnya. Pola ini sama dengan kebijakan yang lebih dulu mengangkat sektor kendaraan listrik dan panel surya China.
Pasar yang Sudah Melampaui Box Office Film
Latar ekonominya menjelaskan kenapa format ini meledak. GDP China 2025 tumbuh 5,0%, tapi IMF menyoroti lemahnya permintaan domestik dan tekanan deflasi, dengan proyeksi 2026 dipatok 4,5%. Belanja hiburan justru naik: pengeluaran per kapita untuk pendidikan, budaya, dan rekreasi pada 2025 mencapai 3.489 yuan, tumbuh 9,4%.
Ukuran pasarnya sudah bukan ceruk: pasar micro-drama China disebut menembus 100 miliar yuan pada 2025 dengan 700–800 juta penonton, dan diperkirakan melampaui 800 juta pada 2026. Sejak 2024, penjualan short drama dilaporkan sudah melewati pendapatan box office film di sana.
ByteDance dan Lingkaran Tertutup Generasi–Distribusi–Iklan
ByteDance disebut berada di pusat perubahan ini. Kekuatannya bukan semata model AI-nya, melainkan kombinasi teknologi pembuat konten, distribusi lewat Douyin, TikTok, dan Hongguo Short Drama, data perilaku pengguna, periklanan, dan monetisasi — semuanya berputar umpan balik ke produksi berikutnya.
Caixin menyebut ByteDance tengah membentuk rantai nilai short drama yang mencakup model AI, distribusi, dan iklan. Reuters Breakingviews memperkirakan belanja modal ByteDance pada 2026 menyentuh skala US$70 miliar — bukan hanya untuk Seedance, tapi seluruh lini bisnis AI-nya.
Ledakan Produksi dan Kekhawatiran yang Muncul
Skala produksi yang membengkak memicu masalah baru. DataEye mencatat 221.900 acara AI baru di Douyin pada paruh pertama tahun ini, tapi hanya 1.055 di antaranya menembus 100 juta penonton — ambang yang umum dianggap sukses.
Pemerintah mulai menertibkan sektornya. Sepanjang 2026 otoritas menghapus 68.000 micro-drama bermasalah, lebih dari 90% produksi AI. Sejak September 2026, karya berbasis AI wajib menampilkan keterangan penggunaan AI secara mencolok di tiap episode, dan dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) micro-drama pertama kali diposisikan sebagai bentuk industri budaya baru.
Aktor khawatir wajah mereka dipakai di film AI. Ada pula kekhawatiran soal pelanggaran hak cipta dan berkurangnya pekerjaan pengisi suara. Penonton mengkritik penjiplakan ide serta minimnya orisinalitas.
Sebagian orang langsung memasukkan karakter orisinal atau video dansa kreator lain ke konten hasil AI tanpa memberi kredit. Menurut saya perilaku seperti itu sama sekali tidak bisa diterima. — Wen
Meski begitu, industri ini sudah menembus panggung internasional. Film fiksi ilmiah 90 menit Sanxingdui: Memories of the Future dari Bona Film Group menjadi film AI pertama buatan studio besar China yang mendapat izin tayang bioskop dari National Film Administration.
Bagi pasar Asia termasuk Indonesia, dinamika ini menawarkan dua sisi. Biaya produksi yang runtuh membuka peluang bagi kreator kecil. Tapi ketika semua bisa memproduksi murah, biaya akuisisi penonton justru melonjak — di China, belanja iklan untuk traffic acquisition dilaporkan menyerap sekitar 70% dari total pendapatan. Diferensiasi akhirnya kembali ke cerita, skrip, dan pemasaran.


