Tech Pulse ID — Utang masyarakat Indonesia di pinjaman online (pinjol) dan paylater masih tumbuh dua digit, dan kali ini rasio kredit macetnya ikut naik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pinjol menembus Rp105,63 triliun per Juli 2026, tumbuh 24,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 di posisi 4,32 persen. Baki debet paylater perbankan sendiri sudah Rp30,71 triliun per Juni 2026, atau tumbuh 33,54 persen yoy.
Pinjol Rp105,63 triliun, paylater perbankan Rp30,71 triliun
Angka pinjol itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Agustus, Senin (7/9/2026). Per Maret 2026, outstanding pinjol tercatat Rp101,03 triliun atau tumbuh 26,25 persen yoy, dengan total utang buy now pay later (BNPL) Rp28,3 triliun dari 30,81 juta pengguna.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut pertumbuhan paylater perbankan 33,54 persen yoy, melambat dari Mei 2026 yang 37,72 persen yoy. Jumlah rekeningnya menembus 32,80 juta dengan rata-rata baki debet Rp0,94 juta (Rp940 ribu) per rekening, dan porsinya baru 0,34 persen dari total kredit perbankan nasional.
Di perusahaan pembiayaan, penyaluran BNPL Rp13,62 triliun per Juli 2026 atau tumbuh 54,65 persen yoy, naik dari Rp13,40 triliun per Juni. Kalau tiga pos itu dijumlahkan — pinjol Rp105,63 triliun, paylater perbankan Rp30,71 triliun, dan BNPL perusahaan pembiayaan Rp13,62 triliun — totalnya Rp149,96 triliun, nyaris menyentuh Rp150 triliun. Catatannya, periode laporan ketiganya tidak persis sama.
NPF dan TWP90, dibaca dengan bahasa awam
NPF (Non Performing Financing) adalah rasio kredit macet: berapa persen dari seluruh pembiayaan yang gagal dibayar debitur. Di industri bank, istilah yang dipakai NPL (Non Performing Loan). TWP90 adalah tingkat wanprestasi 90 hari, yakni porsi pinjaman yang telat dibayar lebih dari 90 hari.
Di pinjol, TWP90 naik ke 4,32 persen pada Juli 2026 dari 4,26 persen bulan sebelumnya, setelah per Maret 2026 tercatat 4,52 persen. Sebanyak 48,65 persen kredit macet pinjol per Maret 2026 berasal dari kelompok usia 19–34 tahun.
Di paylater, gambarnya justru membaik: NPL paylater perbankan 2,36 persen per Juni 2026 dari 2,50 persen pada Mei, dan NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan 3,09 persen dari 3,44 persen. Agusman menyebut perbaikan itu “salah satunya didukung oleh perbaikan kualitas pembayaran debitur”, meski ia juga pernah menyebut kenaikan NPF bisa dipicu penurunan kemampuan membayar sebagian debitur. OJK kini memperkuat aturan lewat POJK Nomor 32 Tahun 2025 dan PADK Nomor 2 Tahun 2026, yang mengatur batasan usia, pendapatan minimum calon debitur, dan rasio leverage.
Dua kelompok yang paling kena
Yang pertama, anak muda: hampir separuh kredit macet pinjol datang dari usia 19–34 tahun, kelompok yang paling dekat dengan layanan keuangan digital.
Yang kedua, calon pembeli rumah subsidi. Ketua DPD Himperra Jawa Tengah, Sugiyatno, menyebut sekitar 30 persen calon pembeli gagal akad kredit karena tunggakan pinjol dan paylater yang jadi catatan buruk di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Dari 10 pengajuan kredit, tiga sampai empat biasanya gagal.
“Kadang cuma tunggakan Rp50.000 atau Rp100.000 di paylater atau pinjol. Konsumen merasa sudah selesai, ternyata masih ada administrasi yang belum tertutup dan akhirnya muncul Kolektivitas 5. Bahkan bisa lebih dari 30 persen. Ini sangat signifikan,” kata Sugiyatno saat Rakorda Himperra Jawa Tengah di Semarang.
Efeknya terasa pada penyerapan rumah subsidi lewat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di tengah target 350.000 rumah secara nasional. Jawa Tengah merealisasikan sekitar 24.000 unit rumah subsidi pada 2025, dengan 9.800 unit di antaranya atau sekitar 40 persen dari anggota Himperra. Target tahun ini 13.000 sampai 15.000 unit.
Harga naik lebih cepat dari gaji
Ketua Umum Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menilai maraknya penggunaan BNPL bukan indikasi pelemahan daya beli masyarakat, melainkan kenaikan harga barang yang jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan gaji. Tapi BNPL tetap utang: cicilannya wajib dibayar tepat waktu.
Riwayat pinjaman juga memengaruhi akses keuangan di masa depan, dari pengajuan KPR sampai pembiayaan usaha. Penagihan kasar pun bukan isu sepele — berdasarkan data dan pemberitaan media, teror dan jeratan utang pinjol sepanjang 2019 hingga 2023 dikaitkan dengan sedikitnya 51 kasus bunuh diri.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menyarankan menyisihkan setidaknya 5 persen dana dingin dari penghasilan untuk investasi rutin lewat metode Dollar-Cost Averaging (DCA), yakni investasi berkala dengan nominal tetap. “Banyak yang sudah dekat dengan layanan keuangan digital, tapi belum punya kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten,” katanya.
Sumber
- detikJabar — Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp105,63 Triliun
- Pikiran Rakyat — Paylater Tembus Rp30,71 Triliun
- Okezone — Paylater Bank Naik 33,54 Persen
- Okezone — Generasi Muda Diingatkan Investasi
- Tribunnews — Usia 19-34 Tahun Banyak Terjerat Pinjol-Paylater
- Kompas.com — Warga Jateng Gagal Beli Rumah Subsidi
- Kompas.com — 3-4 dari 10 Warga Jateng Gagal
- Kontan — Paylater Multifinance Melonjak 57,02%
- Kontan — NPF Paylater Membaik Jadi 3,09%
- Kontan — APPI Ingatkan Kewajiban Bayar Cicilan


