Tech Pulse ID — Setelah sebelumnya memberitakan kebocoran data nasabah Revolut yang terjadi lewat permintaan informasi palsu berkedok instansi pemerintah, kini muncul babak lanjutan yang jauh lebih agresif. Pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden itu mulai mengunggah sebagian data sensitif ke internet dan mengancam akan melepas data baru setiap hari sampai Revolut membayar. Ancaman tersebut disampaikan langsung lewat Telegram, dan membuat tekanan publik terhadap salah satu aplikasi keuangan digital terbesar di Eropa itu naik tajam pada akhir pekan ini.
Ancaman “Setiap Hari” sampai Revolut Membayar
Inti dari perkembangan terbaru ini bukan lagi soal bagaimana data itu bisa keluar, melainkan soal apa yang dilakukan pemegang data sekarang. Menurut laporan Cointelegraph, para pelaku ancaman tampak sudah mulai memublikasikan informasi nasabah Revolut secara terbuka dan berjanji akan terus melakukannya.
“We’re going to start releasing more and more data everyday until revolut pays for leaking their customers,” kata para penyerang, sebagaimana dikutip dari pernyataan mereka di Telegram.
Kalimat itu penting dibaca utuh: kata “everyday” di sana menunjukkan pola ancaman berkelanjutan, bukan satu kali bocor lalu selesai. Artinya, pihak yang memegang data memilih jalur pemerasan publik — melepas sedikit demi sedikit agar tekanan ke Revolut terus terjaga — ketimbang diam-diam menegosiasikan data tersebut.
Apa yang Diklaim Sudah Tersebar
Menurut unggahan akun X International Cyber Digest pada hari Minggu, informasi yang baru bocor mencakup foto selfie verifikasi wajah dan salinan dokumen identitas milik dua nama publik: petenis Alexander Shevchenko dan Felix Römer, yang menjabat sebagai CEO Gamdom, sebuah kasino kripto online. Dua jenis berkas itu — dokumen identitas resmi dan gambar verifikasi wajah — adalah bahan paling sensitif dalam proses pembukaan akun finansial, karena keduanya dirancang justru untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar dirinya sendiri.
Sementara itu, pada hari Jumat Revolut memberi tahu nasabahnya bahwa data yang bocor juga mencakup nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, informasi kontak, rekening koran, dan riwayat transaksi penuh — termasuk catatan transaksi Bitcoin. Kombinasi itu menjelaskan kenapa insiden ini masuk kategori serius meski disebut hanya menyentuh sebagian kecil nasabah: yang tersebar bukan sekadar nomor akun, tapi potret kehidupan finansial seseorang.
Kenapa Ini Menambah Risiko Pencurian Identitas
Dokumen identitas dan gambar verifikasi wajah yang terpapar disebut dapat meningkatkan risiko pencurian identitas (identity theft), yaitu penyalahgunaan data pribadi orang lain untuk berpura-pura menjadi dirinya — misalnya saat membuka akun atau mengajukan layanan atas namanya. Perbedaannya dengan kebocoran biasa terletak pada jenis datanya. Nama dan tanggal lahir bisa diganti atau dianggap basi setelah beberapa waktu, tetapi wajah dan tanda tangan di dokumen identitas tidak bisa diganti oleh pemiliknya.
Bagaimana Data Itu Bisa Keluar
Pada hari Sabtu, Revolut menjelaskan kepada Cointelegraph bahwa data nasabah bocor akibat “sophisticated external impersonation scam” — penipuan penyamaran eksternal yang canggih. Dalam skenario itu, penyerang memakai alamat email dari domain sebuah instansi pemerintah yang sah untuk mengirim permintaan informasi palsu. Karena permintaan datang dari alamat yang tampak resmi, permintaan itu lolos dan diproses. Pola ini menempatkan celahnya bukan pada sistem keamanan teknis Revolut, melainkan pada kelemahan prosedur verifikasi permintaan data.
Respons Revolut dan Status Komunikasi
Revolut menyatakan bahwa insiden ini berdampak pada “jumlah terbatas” nasabah, serta sistem dan dana nasabah tidak terpengaruh. Cointelegraph sendiri menyebut telah menghubungi Revolut dan Felix Römer untuk meminta komentar. Perlu dicatat, laporan yang menjadi rujukan artikel ini tidak memuat pernyataan apa pun dari otoritas atau regulator terkait insiden tersebut, sehingga belum ada informasi resmi dari pihak berwenang mengenai langkah lanjutan.
Apa Artinya buat Nasabah
Kabar bahwa hanya “jumlah terbatas” nasabah yang terdampak tidak otomatis membuat risikonya kecil. Justru sebaliknya: ancaman rilis data harian berarti daftar korban bisa bertambah seiring waktu, dan data yang sudah beredar tetap beredar meski pembayaran terjadi. Bagi nasabah yang datanya disebut sudah tersebar, kombinasi nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, kontak, dan riwayat transaksi Bitcoin bisa dipakai untuk menyusun penipuan bertarget yang terdengar meyakinkan. Karena itu, perkembangan yang paling layak diikuti sekarang adalah apakah rilis berikutnya benar-benar muncul setiap hari seperti yang diancamkan, dan bagaimana Revolut menutup celah prosedur yang membuat permintaan palsu itu lolos.
Sumber
Artikel ini disusun berdasarkan laporan Cointelegraph berjudul “Revolut attackers threaten daily customer data leaks”, diterbitkan 14 September 2026: sumber berita.


