Solana, Ether, dan XRP Memimpin Penurunan Pasar Kripto di Tengah Aksi Jual Risiko

568b23cc993b293ccf5b727a8a9b95bc5e457598 1518x838

Pasar altcoin menjadi korban terbesar dari gelombang aksi jual risiko (risk-off) yang melanda aset digital. Tiga kripto utama, yakni Solana (SOL), Ether (ETH), dan XRP, memimpin penurunan di antara koin-koin berkapitalisasi besar. Sentimen negatif ini dipicu oleh serangan AS ke Iran yang memicu ketidakpastian geopolitik dan mendorong investor menarik dana dari aset-aset yang dianggap berisiko tinggi.

Angka di Balik Aksi Jual

Data pasar pada periode tersebut menunjukkan altcoin memang bergerak lebih dalam daripada Bitcoin. Solana dan Tron masing-masing turun lebih dari 3 persen dalam 24 jam, sementara Bitcoin hanya melemah sekitar 1 persen ke kisaran US$77.500. Solana mundur ke sekitar US$100, sedangkan Tron berada di kisaran 32 sen.

Ether turun 2 persen ke sedikit di atas US$2.414 dan XRP melemah hampir 2 persen menjadi sekitar US$1.35. Di kelompok lain, Dogecoin kehilangan hampir 2 persen ke sedikit di atas 8 sen, dan HYPE turun lebih dari 1 persen ke sekitar US$83. BNB menjadi yang paling bertahan dengan penurunan di bawah 1 persen di sekitar US$687, menurut data CoinDesk.

Selisih penurunan itu bukan kebetulan. Aksi jual pertama kali menyasar posisi yang paling cepat bergerak dan paling tipis likuiditasnya, sementara aset dasar seperti Bitcoin relatif ditinggalkan.

Altcoin Lebih Rentan Terhadap Sentimen

Fenomena altcoin turun lebih dalam daripada Bitcoin bukanlah hal baru. Secara historis, koin-koin alternatif memiliki volatilitas lebih tinggi dan likuiditas lebih tipis dibanding Bitcoin. Ketika ketakutan menyelimuti pasar, investor cenderung lebih dulu melepas posisi di altcoin untuk mempertahankan aset yang dianggap lebih mapan. Solana, Ether, dan XRP sebagai tiga nama terbesar di luar Bitcoin pun menjadi sasaran empuk aksi jual.

Peran Ekosistem Masing-Masing

Ether sebagai fondasi ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan Solana sebagai rival dengan kecepatan transaksi tinggi, keduanya sangat sensitif terhadap perubahan selera risiko. Sementara itu, XRP yang selama ini lekat dengan narasi adopsi institusional juga tak luput dari tekanan. Ketika modal asing dan institusi menarik diri, ketiganya merasakan dampak langsung berupa penurunan harga yang lebih tajam ketimbang aset lainnya.

Aliran dana institusi memang punya batas. Arus masuk ETF XRP yang sempat tercatat sekitar US$170 juta selama sebelas hari tidak cukup dalam untuk menyerap tekanan yang dipicu persoalan geopolitik. Itu menjelaskan mengapa tiga nama besar ini tetap sulit menahan penurunan meski sebagian investor institusi masih menambah posisi.

Mengapa Bitcoin Relatif Bertahan

Perbedaan reaksi antara Bitcoin dan altcoin menyita perhatian analis. Strategi risk-off pada dasarnya sederhana: jual saham, jual kripto, beli minyak, beli obligasi, lalu perhitungkan ketidakpastian. Namun kali ini Bitcoin hanya kehilangan sekitar 1 persen, sedangkan altcoin kehilangan dua hingga tiga kali lebih banyak.

Analis memperkirakan Bitcoin masih bisa bergerak naik bila kondisi pasar membaik. Area kenaikan kunci disebut berada di sekitar US$80.000 hingga puncak Mei di dekat US$82.820, dengan catatan tidak ada penurunan serentak di seluruh aset berisiko yang menyeret Bitcoin ikut turun. Naiknya harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat turut membentuk tekanan jual, dan altcoin berada di urutan pertama yang dilepas karena dipegang lebih banyak oleh trader ritel serta dana yang mengikuti momentum.

Peluang di Balik Koreksi

Meski menyakitkan dalam jangka pendek, koreksi semacam ini kerap dipandang sebagai fase konsolidasi. Investor yang meyakini kekuatan fundamental masing-masing jaringan — baik itu ekosistem kontrak pintar Ethereum, kecepatan Solana, maupun utilitas pembayaran lintas batas XRP — sering kali justru memanfaatkan momen ini untuk akumulasi.

Namun, semua tetap bergantung pada perkembangan geopolitik yang menjadi pemicu utama gejolak kali ini. Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap altcoin berpotensi berlanjut. Pasar juga menanti data ekonomi berikutnya, termasuk laporan ketenagakerjaan, yang bisa menentukan apakah Bitcoin mampu kembali menembus ambang US$80.000 atau justru tertahan lebih lama.

Bagi pelaku pasar kripto di Indonesia, koreksi semacam ini biasanya terasa lewat nilai portofolio dan volume perdagangan di bursa lokal. Polanya tetap sama: ketika sentimen global memburuk, aset dengan likuiditas lebih tipis bergerak lebih dulu dan lebih keras, sementara Bitcoin cenderung bertahan lebih lama.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top