Truecaller Bawa Scam Checker ke Web

feat truecaller bawa scam checker ke web

Truecaller Bawa Scam Checker ke Web

Truecaller meluncurkan Scam Checker, layanan berbasis web dan Android yang memungkinkan siapa pun memeriksa nomor telepon, tautan, atau pesan yang dicurigai sebagai penipuan tanpa perlu memasang aplikasi maupun masuk akun. Langkah ini menandai pergeseran perusahaan asal Swedia tersebut dari bisnis caller ID yang dibangun lebih dari satu dekade dengan lebih dari 500 juta pengguna.

Scam Checker dirilis pada Minggu dan bisa diakses secara gratis. Alih-alih hanya mengandalkan basis data internal, layanan ini menampilkan laporan terkait dari Scamfeed, komunitas pelaporan penipuan milik Truecaller.

Cara Kerja Scam Checker

Untuk memeriksa sebuah tautan, Scam Checker membuka URL yang dipendekkan dan mengikuti pengalihan hingga tujuan akhirnya. Hasilnya lalu dicocokkan dengan basis data risiko proprietary Truecaller beserta sinyal penipuan lain yang dimiliki perusahaan.

Pengguna juga dapat menempelkan pesan mencurigakan. Dari pesan itu, layanan menyaring nomor telepon atau tautan yang ada di dalamnya, kemudian menampilkan laporan komunitas yang relevan.

Meski begitu, Truecaller tetap menyimpan sebagian informasi di balik layanan lamanya. Detail yang lebih lengkap soal sebuah nomor, termasuk nama yang terkait dengannya, masih hanya bisa dilihat lewat layanan Truecaller yang mewajibkan pengguna masuk akun.

Fokus ke Konsumen, Umpan Balik untuk Bisnis

CEO Truecaller Rishit Jhunjhunwala mengatakan Scam Checker ditujukan bagi konsumen. Perusahaan menyebut alat ini sekaligus berfungsi sebagai lead generation bagi aplikasinya, dan memberi Truecaller gambaran lebih baik soal penipuan yang tengah beredar.

Menurut perusahaan, hal itu turut membantu produk fraud dan risiko yang dijual ke korporasi melalui Truecaller for Business. Laporan komunitas menjadi bagian krusial: sekitar 20.000 laporan penipuan aktif di Scamfeed untuk India, dengan sekitar 1.300 laporan baru setiap pekan.

“Ketika Anda membutuhkannya, Anda biasanya sedang berada di tempat lain. Tautan muncul di WhatsApp. Ibu Anda menerima pesan soal denda lalu lintas. Seorang teman meneruskan tangkapan layar dan bertanya, ‘Apakah ini asli?’ Yang orang lakukan pada momen itu adalah mencari,” ujar Rishit Jhunjhunwala, CEO Truecaller.

Pernyataan itu merujuk estimasi Truecaller bahwa ada sekitar 14 juta pencarian web per bulan untuk memeriksa tautan dan nomor mencurigakan. Perilaku inilah, kata Jhunjhunwala, yang membentuk desain Scam Checker.

Penipuan Bergeser, Caller ID Tak Lagi Cukup

Peluncuran ini terjadi saat penipuan telah bergerak jauh melampaui panggilan telepon ke pesan teks, aplikasi pesan, dan tautan web. Survei GSMA 2025 terhadap orang dewasa India mencatat 46% mereka yang melaporkan menjadi korban dihubungi lewat aplikasi pesan, 37% lewat SMS, dan 32% lewat panggilan suara.

Skala kerja Truecaller terlihat dari angka yang dibagikan perusahaan: pada 14 hingga 20 September, mereka mengevaluasi 12,9 miliar pesan secara global dan menandai 20,3 juta di antaranya sebagai penipuan.

Namun bisnis intinya menghadapi tekanan baru di India, pasar terbesarnya dengan lebih dari 350 juta pengguna. Operator telekomunikasi mulai menerapkan Calling Name Presentation yang didukung pemerintah federal, sementara Apple dan Google menambahkan fitur identifikasi penelepon serta perlindungan spam versi mereka sendiri.

Pekan lalu, regulator telekomunikasi India juga memerintahkan aplikasi caller ID untuk berbagi laporan spam dari pengguna dengan operator. Truecaller mengkritik kebijakan itu sebagai pertukaran “satu arah” atau one-way exchange.

Rencana Berikutnya

Dalam waktu dekat, Truecaller berencana memperluas jenis penipuan yang bisa dideteksi Scam Checker dan menambahkan unggahan tangkapan layar untuk dianalisis lebih lanjut.

Cakupan ketersediaannya pun akan meluas. Scam Checker awalnya hanya hadir di India, lalu akan menyasar Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika, serta Asia Tenggara.

“Caller ID adalah masalah pertama yang kami selesaikan, dan itu masih cara kebanyakan orang menemukan kami,” kata Jhunjhunwala. “Tetapi penipuan bergerak dengan pendekatan multi-kanal lewat tautan dan pesan, dan semakin banyak lewat suara serta video. Perlindungan kami harus mengikuti si penipu.”

Sources

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top