Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 30 tahun menyentuh 5,70% pada perdagangan Rabu (7/10/2026), level tertinggi sejak 2002. Yield tenor 10 tahun ikut merangkak ke sekitar 5,32%, mendekati kisaran yang terakhir terlihat lebih dari dua dekade silam. Aksi jual di pasar obligasi yang tak kunjung mereda itu menekan saham, emas, dan sentimen risiko secara keseluruhan.
Bagi pelaku pasar, angka 5,70% bukan sekadar rekor baru. Level itu menegaskan bahwa investor kini menuntut kompensasi lebih besar untuk memegang utang jangka panjang, dan artinya biaya pinjaman bisa tetap mahal tanpa perlu ada kenaikan suku bunga tambahan dari The Fed.
Kenapa yield terus melesat
Pendorong utamanya adalah harga minyak yang masih tinggi akibat perang di Timur Tengah. Harga energi yang mahal menyalakan kembali kekhawatiran inflasi, sehingga investor enggan memegang obligasi jangka panjang tanpa premi yang memadai. Straits Times mengutip Bloomberg menyebut pasar obligasi AS senilai US$32 triliun tengah mengalami penurunan yang sudah berlangsung berbulan-bulan, dengan derasnya pasokan utang korporasi menambah beban.
“Sisi panjang kurva memang terlihat murah secara historis, dan kami belum melihat pembeli besar di level ini. Kami sudah menunggu lebih dari sebulan dan mereka tidak muncul.” — Michael Cloherty, kepala strategi suku bunga AS di CIBC Capital Markets
Yang lebih penting, menurut investingLive, bukan sekadar rekor baru tersebut, melainkan pesan yang dibawa pergerakan itu tentang lanskap pasar yang harus dihargai investor. Di titik ini, narasi higher for longer mulai berlaku di luar apa pun yang diputuskan The Fed: selama investor terus menuntut imbal hasil tinggi untuk memegang surat utang pemerintah jangka panjang, biaya pinjaman bisa bertahan tinggi.
Angka dan reaksi pasar
CNBC mencatat yield 10 tahun sempat melonjak sekitar 7 basis poin ke 5,349%, tertinggi sejak 3 April 2002, sebelum kembali ke 5,307%. Adapun yield 30 tahun naik sekitar 3 basis poin ke 5,661%, setelah sebelumnya melesat lebih dari 7 basis poin ke 5,703%, level yang tak terlihat sejak akhir Mei 2002. “Ini aksi jual yang didorong momentum,” ujar Jay Hatfield, pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors.
Tekanan itu menjalar ke aset lain. Emas turun sekitar 1% ke US$4.117 per ounce setelah gagal menembus US$4.200 pekan sebelumnya, sementara setiap kenaikan yield menaikkan ambang imbal hasil yang harus dilewati saham agar tetap menarik.
Di sisi kebijakan, Presiden Fed New York John Williams menyatakan “satu penyesuaian ke atas” pada kisaran suku bunga acuan “mungkin layak dilakukan pada akhir tahun ini” demi menahan inflasi. Pasar kini memperhitungkan setidaknya satu kenaikan seperempat poin sampai akhir tahun, bahkan hampir tiga kenaikan lagi hingga pertengahan 2027. Namun data tenaga kerja yang lemah membuat peluang The Fed menahan suku bunga di rapat berikutnya naik menjadi sekitar 82%, menurut CME FedWatch.
Dampak ke Indonesia
Bagi Indonesia, tekanan ini terasa lewat jalur nilai tukar. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut rupiah sempat melampaui Rp18.000 per dolar AS, dipicu kekhawatiran inflasi global, risiko fiskal, dan kenaikan harga minyak mentah. Saat itu yield US Treasury 10 tahun kembali naik ke 5,23%, tertinggi sejak 2007, dan arus dana keluar dari aset negara berkembang ikut menekan rupiah.
Logikanya sederhana: ketika yield surat utang AS naik, investor bisa mendapat imbal hasil tinggi dengan risiko yang relatif lebih rendah. Akibatnya premi risiko yang diminta untuk memegang aset negara berkembang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, ikut naik. Rupiah yang melemah membuat barang impor dan bahan baku menjadi lebih mahal, yang pada gilirannya bisa mengerek inflasi dan menggerus daya beli.
BI memastikan akan terus hadir di pasar secara konsisten melalui intervensi di transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot, dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian SBN di pasar sekunder. Opsi ini memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas tanpa harus buru-buru menaikkan suku bunga acuan.
Apa berikutnya
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada notulen rapat The Fed edisi September yang dijadwalkan rilis Rabu pukul 14.00 waktu AS. Isinya akan dibaca untuk melihat seberapa kuat dukungan pejabat terhadap sinyal kenaikan bunga satu kali lagi di 2026, setelah data tenaga kerja dan inflasi yang lebih lembut. Rapat FOMC berikutnya sendiri dijadwalkan pada 27-28 Oktober.
Pertanyaan besar yang masih menggantung, seperti dikutip investingLive, adalah seberapa tinggi yield harus naik sebelum ada sesuatu yang mulai rusak. Dengan yield 30 tahun yang kini mendekati 6%, pertanyaan itu semakin sulit diabaikan.
Sumber
- investingLive — Treasury yields continue to break higher as 30-year hits 5.70%
- CNBC — 10-year Treasury yield rises to fresh 2002 high to start the week
- The Straits Times — US 30-year treasury yield rises to highest level since 2002
- Metro TV — BI ungkap penyebab nilai tukar rupiah sentuh Rp18 ribu/USD


