Visa berhenti memperlakukan stablecoin sebagai proyek eksperimen. Sejak 15 Oktober 2026, Visa Direct menerima USDC — stablecoin terbitan Circle — sebagai sumber dana untuk payout lintas negara, dengan Inyo Global sebagai mitra pertama yang menjalankannya di jalur produksi.
Pengumuman itu datang lewat rilis resmi Visa kepada investor, dengan judul yang cukup gamblang: pilot dipindahkan ke produksi. Artinya bukan lagi sandbox, bukan uji terbatas di laboratorium, melainkan transaksi komersial yang memakai uang sungguhan.
Apa yang sebenarnya berubah
Dalam model lama, bisnis yang mengirim uang ke banyak negara harus menempatkan dana lebih dulu di rekening-rekening di negara tujuan. Praktik ini disebut prefunding. Masalahnya jelas: uang menganggur, biayanya mahal, dan ketersediaannya bergantung pada jam operasional bank di masing-masing negara.
Dengan skema baru, dana yang disiapkan bisa berupa USDC. Stablecoin itu duduk di sisi pendanaan; penerima akhir tetap dibayar dalam mata uang lokal. Platform Inyo sendiri melayani payout domestik dan internasional ke lebih dari 180 negara, dan klien yang sudah terhubung ke API Inyo bisa memakai opsi ini tanpa membangun sistem pembayaran baru.
“Dengan mengintegrasikan prefunding berbasis stablecoin dari Visa Direct ke platform Inyo, kami memberi money transmitter, fintech, dan perusahaan pembayaran yang kami layani cara baru untuk mendanai payout mereka — tersedia sepanjang waktu dan lewat API Inyo yang sudah mereka pakai,” kata Robson Dantas, CPTO dan co-founder Inyo Global.
Perlu dicatat, USDC hanya duduk di kaki pendanaan. Penerima di ujung sana tidak pernah menyentuh kripto: dananya dicairkan dalam mata uang lokal seperti biasa. Yang berubah adalah bagaimana uang disiapkan di sisi pengirim — bukan bagaimana uang itu tiba di rekening orang.
Kenapa ini bukan sekadar pengumuman biasa
Ada tiga hal yang membuat langkah ini berbeda dari rilis-rilis stablecoin sebelumnya. Pertama, statusnya: Inyo bukan mitra pilot yang menjalankan uji coba, tapi procesor komersial dengan basis klien yang bisa mengakses kemampuan ini hari ini. Kedua, modelnya bisa direplikasi — begitu satu procesor tersambung, seluruh bisnis di platform itu ikut dapat akses. Visa menyatakan akan menambah enabler lain.
Ketiga, ini terjadi saat kompetisi sedang panas. Mastercard lebih dulu mengakuisisi BVNK dengan nilai sekitar US$1,8 miliar, dan Visa sendiri sudah lebih awal memperluas stablecoin ke sekitar 18 miliar endpoint pembayaran pada Agustus lalu. Artinya, dua jaringan kartu terbesar dunia sedang berlomba menjadikan stablecoin sebagai lapisan dana, bukan sekadar alat spekulasi.
Yang belum selesai
Jangan buru-buru membaca ini sebagai “kirim uang ke luar negeri langsung masuk dalam hitungan detik”. Visa menyebut prefunding mendekati real time — bukan jaminan dana sampai seketika. Kecepatan akhir tetap bergantung pada negara tujuan, metode pembayaran, dan aturan setempat. Akses juga dibatasi oleh kelayakan nasabah dan batasan geografis, dan Visa belum memastikan layanan ini tersedia di semua pasar yang dilayani Inyo.
Untuk pasar Indonesia, yang paling layak dipantau adalah sisi koridor. Remitansi dan payout lintas negara adalah jalur pertama yang biasanya terpengaruh ketika stablecoin jadi standar di sisi pendanaan, karena di situlah biaya prefunding dan jam bank paling mengganggu. Kalau nanti ada bank atau fintech Indonesia yang masuk sebagai enabler, artinya bukan cuma soal teknologi — itu soal biaya modal kerja yang turun.
Foto: Revisorweb via Wikimedia Commons (public domain).
Sumber
- BusinessWire via FT Markets — Visa Direct Launches Stablecoin-Powered Money Movement as Pilots Move to Production (rilis resmi Visa, 15 Okt 2026)
- Forkast — Visa Direct Moves Stablecoin Cross-Border Payments to Commercial Production with Inyo Global
- crypto.news — Visa launches 24/7 USDC funding for global payments
- FinanceFeeds — Visa Direct Moves USDC-Powered Payments From Pilots to Production


