Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengiriman ekspor baterai kendaraan listrik pertama Indonesia, Kamis (8/10), di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ekspor perdana itu dikirim oleh REPT Battero Indonesia, salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan industri tersebut.
Dalam acara yang sama, Presiden juga meresmikan program hilirisasi senilai Rp180 triliun (sekitar US$10,2 miliar) yang mencakup 11 proyek industri: empat mulai beroperasi komersial dan tujuh memasuki tahap konstruksi.
“Ekspor baterai kendaraan listrik pertama hari ini adalah tonggak penting. Ini bukti konkret bahwa kebijakan hilirisasi kita ada di jalur yang benar, dan kami akan terus mendorongnya semaksimal mungkin,” kata Prabowo.
Presiden juga menegaskan bahwa capaian ini adalah hasil kebijakan dan keputusan dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. “Membangun bangsa bukan usaha jangka pendek. Membangun bangsa adalah perjalanan panjang, dan ini bagian dari perjalanan panjang itu,” ujarnya.
Empat proyek jalan komersial, tujuh groundbreaking
Empat proyek yang memulai operasi komersial melibatkan Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing. Sementara tujuh proyek lain baru memasuki tahap groundbreaking.
Menurut Menteri Investasi Rosan Roeslani, cakupan proyek-proyek itu cukup lebar: bahan baku baterai berbasis nikel, separator dan elektrolit baterai EV, produksi aluminium, kaca fotovoltaik untuk panel surya, sampai kendaraan listrik kelas berat yang dipakai di tambang dan industri lain.
“Kita akan menjadi bagian penting dari rantai pasok baterai kendaraan listrik global,” kata Rosan dalam seremoni yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube pemerintah.
Kenapa ekspor baterai ini beda dari ekspor nikel
Indonesia sudah bertahun-tahun menjadi eksportir nikel terbesar, tapi sebagian besar nilai tambahnya dinikmati di luar negeri karena produknya keluar dalam bentuk bijih atau logam setengah jadi. Ekspor baterai adalah lompatan ke hilir yang lebih jauh: dari bahan mentah, ke bahan kimia baterai, ke sel baterai yang langsung dipakai pabrik mobil listrik.
Bagi negara tujuan ekspor, ini juga soal kepastian pasokan. Pabrik baterai di Eropa dan Amerika sedang mengejar target produksi sambil mencari sumber bahan baku yang bukan dari China. Indonesia berada di posisi menawarkan kombinasi nikel, kapasitas pengolahan, dan biaya produksi yang lebih rendah.
Konteks IWIP
IWIP sudah menarik sekitar US$20 miliar investasi terealisasi sejak mulai beroperasi pada 2018, dengan tambahan komitmen sekitar US$7 miliar menurut data yang disebut pemerintah. Kawasan ini dikembangkan oleh konsorsium yang melibatkan perusahaan China, dan menjadi pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia.
Artinya, apa yang diresmikan Kamis lalu adalah hasil akumulasi bertahun-tahun: kapasitas peleburan dulu, baru kemudian rantai industri baterai. Dua hal itu memang tidak bisa dibangun bersamaan.
Yang masih jadi pekerjaan rumah
Ekspor pertama bukan garis akhir. Tiga hal menentukan apakah hilirisasi ini benar-benar berubah jadi industri bernilai tinggi di dalam negeri.
- Kedalaman rantai pasok. Mengirim sel baterai berbeda dari menguasai teknologi selnya. Kalau bahan aktif, mesin produksi, dan lisensi teknologinya masih impor, nilai tambah yang tertinggal di Indonesia tetap terbatas.
- Pasokan listrik dan energi bersih. Industri baterai sangat haus daya. Sumber listriknya ikut menentukan apakah produknya bisa diterima pasar yang menerapkan aturan karbon, terutama Eropa.
- Tenaga kerja dan standar. Untuk naik ke komponen presisi, dibutuhkan teknisi terlatih dalam jumlah besar — bukan hanya operator pabrik.
Sejumlah kalangan juga menyoroti sisi lingkungan dari pengolahan nikel di kawasan ini, dari pengelolaan tailing sampai jejak karbon peleburan. Kritik itu penting dicatat karena pasar ekspor makin sering menuntut bukti produksi yang bersih — dan tuntutan itu datang dari pembeli, bukan dari regulator Indonesia.
Apa artinya buat ekonomi
Kalau proyek-proyek ini berjalan sesuai jadwal, dampak paling langsung terasa di neraca dagang dan lapangan kerja di Maluku Utara, bukan di Jakarta. Yang lebih penting bagi jangka panjang: Indonesia sedang menguji apakah strategi larangan ekspor bahan mentah benar-benar menghasilkan industri pengolahan yang berkelanjutan. Ekspor baterai pertama adalah titik data pertama yang bisa dinilai publik.
Sumber
- ANTARA News — “Prabowo launches first EV battery export from Indonesia”
- Jakarta Globe — “Indonesia Enters New EV Industry Era with First Battery Exports”


