Berkshire Tambah US$330 Juta ke Bending Spoons, Saham +41%

feat berkshire bending spoons

Berkshire Hathaway menambah lagi investasinya di Bending Spoons. Lewat skema penempatan saham privat (private placement), konglomerat asal Omaha itu membeli 10 juta saham biasa dengan harga US$33 per lembar, atau total US$330 juta. Pengumumannya keluar pada 14 Oktober 2026 melalui rilis resmi Bending Spoons.

Bagi Berkshire, ini bukan langkah pertama. Perusahaan sudah menanam US$600 juta saat Bending Spoons melantai di Nasdaq pada Juli 2026. Dengan suntikan terbaru, total komitmennya kini melampaui US$900 juta, sementara kepemilikan Berkshire di perusahaan asal Milan itu naik menjadi sekitar 4%. Reuters mencatat posisi tersebut menempatkan Berkshire sebagai investor terbesar keenam di Bending Spoons berdasarkan data LSEG.

Pasar bereaksi cepat. Saham Bending Spoons (kode BSP) melonjak 41% setelah berkas baru ke otoritas pasar Amerika Serikat terungkap, menurut CNBC. Reuters mencatat kenaikan 34% pada sesi Rabu yang sama. Setelah sebagian kenaikan itu terkikis menjelang akhir pekan, kapitalisasi pasar Bending Spoons berada di sekitar US$30 miliar.

Siapa Bending Spoons

Perusahaan ini didirikan pada 2013 oleh Luca Ferrari, Matteo Danieli, dan Francesco Patarnello. Awalnya mereka membuat aplikasi; salah satunya, Evertale, tidak berhasil. Sisa dana sekitar US$40.000 mereka pakai untuk membangun perusahaan operasional, bukan lagi mengejar produk yang tidak ada peminatnya.

Model bisnisnya mudah dijelaskan: membeli produk digital mapan yang kehilangan momentum, lalu membenahinya sampai menguntungkan. Portofolio utamanya kini mencakup Airtable, AOL, Brightcove, Eventbrite, Evernote, Tractive, Vimeo, dan WeTransfer. Bending Spoons mengumumkan hampir semua akuisisinya dalam beberapa tahun terakhir: Evernote pada 2022, Brightcove pada 2024, lalu Vimeo, AOL, dan Eventbrite pada 2025. Bulan lalu, perusahaan sepakat membeli Miro, pemain perangkat lunak kolaborasi yang pernah dihargai US$17,5 miliar, dengan nilai transaksi US$1,36 miliar.

CEO dan salah satu pendiri Bending Spoons, Luca Ferrari, menyebut Berkshire sebagai salah satu pengalokasi modal terbaik di dunia dan sumber inspirasi lama bagi perusahaannya.

“We were delighted to welcome Berkshire Hathaway as shareholders at our public listing, and we’re equally delighted to reinforce the partnership through this fresh investment,” kata Ferrari dalam rilis resmi.

Rekan pendirinya, Francesco Patarnello, yang menangani urusan akuisisi, menegaskan pipeline perusahaan masih kuat dan investasi Berkshire akan memperkuat fleksibilitas finansialnya.

“Bending Spoons continuously evaluates M&A opportunities, and our pipeline remains strong,” ujar Patarnello.

Harga US$33 per saham itu sekitar 14% lebih tinggi dari harga penawaran umum perdana (IPO) di angka US$29. IPO-nya sendiri digelar pada 30 Juni 2026 dan menghimpun sekitar US$1,7 miliar sebelum sahamnya mulai diperdagangkan di Nasdaq sehari setelahnya.

Sisi lain: pemangkasan tim

Cerita seputar investasi ini tidak lepas dari efisiensi. Bending Spoons menyebut transformasi sebagai inti modelnya: menata ulang tim, merombak teknologi, mendesain ulang antarmuka, serta mempercepat pengembangan produk dan monetisasi.

Bulan Agustus lalu, Bending Spoons mengakuisisi penyedia perangkat lunak alur kerja Airtable dengan nilai sekitar US$1,3 miliar, hampir 90% di bawah valuasi puncaknya pada akhir 2021. Senin pekan ini, perusahaan menyatakan bahwa “sebagian besar tim Airtable sebelum akuisisi” akan meninggalkan perusahaan dengan “paket pesangon yang besar”. Pemangkasan serupa sebelumnya juga berlangsung di Evernote, Vimeo, dan WeTransfer.

Perusahaan menggambarkan kebijakan itu sebagai bagian dari upayanya menutup jarak antara kondisi sebuah bisnis saat dibeli dan versi terbaiknya. Bagi pelanggan, perubahan bisa terasa lewat harga: setelah mengakuisisi Evernote pada 2023, Bending Spoons menaikkan langganan personal tahunan dari US$70 ke US$130 dan menyusun ulang paket layanannya.

Konteks industri dan taruhan yang belum tuntas

Langkah Bending Spoons berjalan di tengah tekanan besar pada perangkat lunak mapan. Saham Intuit, HubSpot, dan Adobe turun setidaknya 30% sepanjang tahun ini karena perusahaan mengalihkan pekerjaan bernilai tinggi ke agen AI, fenomena yang oleh sebagian orang dijuluki “SaaSpocalypse”.

Analis Mizuho, Lloyd Walmsley, menilai model Bending Spoons berbeda dari private equity konvensional karena kedalaman keterlibatannya di sisi operasional dan kesediaannya mengubah produk secara signifikan. Nick Mehta, mantan CEO Gainsight, bahkan menyebut nama perusahaan itu sudah menjadi kata kerja di Silicon Valley: “Bending Spooned”, istilah untuk perusahaan yang diambil dengan harga murah.

Ferrari punya alasan sendiri soal itu. Menurutnya, banyak bisnis SaaS enterprise dinilai terlalu tinggi sampai belakangan, dan harga-harga itu tidak pernah masuk akal baginya.

Pada laporan keuangan pertamanya sebagai perusahaan publik, Bending Spoons membukukan pendapatan lebih dari US$700 juta, lebih dari dua kali lipat dari setahun sebelumnya, dengan laba bersih naik 171% menjadi US$177 juta. Pertumbuhan itu hampir seluruhnya datang dari akuisisi, bukan dari produk yang sudah ada.

Transaksi private placement ini masih menunggu pemenuhan syarat penutupan yang biasa, dan kepemilikan 4% tidak memberi Berkshire kendali operasional. Selama produk-produk yang dibeli tetap diminati pelanggan, model ini bisa berjalan. Tapi saat margin industri tertekan dan selera pasar cepat berubah, taruhannya masih belum terbukti.

Foto: JNOJ1423 via Wikimedia Commons (CC0) – ilustrasi Omaha, Nebraska.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top