IHSG Rawan Turun, Saham Ini Jadi Rekomendasi Analis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi lebih dalam, menurut analis MNC Sekuritas. Setelah mencapai area koreksi yang sebelumnya diproyeksikan, indeks dinilai masih rentan turun dengan area support terdekat di level 6.578–6.598.
Dalam skenario terburuk, IHSG disebut sudah berada di penghujung wave v dari wave (c). “Sehingga IHSG rawan terkoreksi dengan area terdekat berada di 6.578–6.598,” tulis analis dalam risetnya, Selasa (8/9).
MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG di kisaran 6.561–6.476, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.705–6.755.
Pahami Dulu: Support & Resistance
Sebelum masuk ke rekomendasi, penting paham dua istilah ini. Support adalah area harga yang diyakini sebagai titik terendah; saat harga menyentuh support, biasanya ada daya beli yang kembali masuk, sehingga harga cenderung memantul naik. Sebaliknya, resistance adalah titik tertinggi; setelah menyentuh level ini, biasanya muncul cukup banyak aksi jual yang menahan laju naiknya harga.
Memahami support dan resistance membantu investor membaca potensi arah gerak, meski tidak ada yang bisa memastikan 100%.
Rekomendasi Saham
Dari sisi saham individual, MNC Sekuritas menyoroti beberapa emiten dengan rekomendasi spesifik:
- PT Harum Energy Tbk (HRUM) — buy on weakness di rentang Rp 890–Rp 910, target harga Rp 985–Rp 1.015, stoploss di bawah Rp 870.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) — trading buy di area Rp 2.860–Rp 2.880, target harga Rp 2.980–Rp 3.020, stoploss di bawah Rp 2.850.
Perhatikan bahwa rekomendasi ini berisi level entry, target, dan stoploss yang jelas — bukan sekadar “beli”. Ini menandakan pendekatan yang disiplin pada manajemen risiko.
Sentimen dari Phintraco
Sedangkan Phintraco Sekuritas mencatat IHSG ditutup melemah 0,25% ke level 6.619,67 pada perdagangan Senin (7/9). Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG membentuk death cross, sementara histogram positif MACD mulai menyempit.
IHSG juga ditutup di bawah moving average (MA) 5, yang menandakan tekanan terhadap indeks masih berlanjut. Phintraco memperkirakan IHSG bergerak sideways cenderung melemah, menguji level 6.550-6.600.
Konteks Koreksi Lebih Luas
Menariknya, koreksi IHSG ini bukan fenomena baru. Data OJK menyebut investor RI sudah menembus 31,14 juta orang per Agustus 2026, tapi IHSG masih terkoreksi sekitar 23% secara year-to-date. Artinya, makin banyak orang masuk pasar, tapi indeksnya justru masih dalam fase turun yang cukup dalam.
Buat investor ritel, ini pengingat penting: jumlah partisipan yang ramai tidak selalu berarti harga akan naik. Kondisi pasar perlu dibaca lewat indikator teknikal, fundamental, dan sentimen makro — bukan cuma ikut-ikutan tren.
Kabar Positif: Cadangan Devisa
Di tengah koreksi, ada kabar yang lebih positif. Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 146,5 miliar pada Agustus 2026, dari US$ 145,3 miliar pada Juli — posisi tertinggi sejak Maret 2026.
Kenaikan ini ditopang penerimaan pajak, jasa, dan penarikan utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa itu setara pembiayaan 5,4 bulan impor, masih di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor — kabar baik buat stabilitas rupiah dan ketahanan eksternal.
Kesimpulan: pasar Indonesia sedang dalam mode hati-hati. Buat investor, ini saatnya disiplin pada manajemen risiko — perhatikan area support dan batas kerugian (stoploss) sebelum masuk, dan jangan lupa diversifikasi.
Yang layak dipantau: pergerakan IHSG di area 6.550–6.600, perkembangan sektor kesehatan, dan data cadangan devisa berikutnya. Buat yang baru mulai berinvestasi, ini juga pengingat bahwa pasar saham bisa koreksi — pastikan punya rencana sebelum membeli.
Sumber: Katadata


