Google Perluas Riset Dampak AI ke Ekonomi dan Kerja

feat google ai ekonomi

Google memperluas program risetnya soal dampak AI terhadap ekonomi dan dunia kerja. Lewat unggahan di blog resminya pada 18 September 2026, raksasa teknologi itu mengumumkan penambahan sejumlah ekonom kelas dunia dan penasihat akademik ke dalam AI & Economy Research Program — sebuah tim yang tugasnya melacak bagaimana kecerdasan artifisial mengubah pekerjaan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi.

Yang ditekankan Google bukan sekadar penambahan nama di halaman tim. Tujuannya eksplisit: membangun pemahaman ilmiah yang lebih kokoh soal bagaimana AI memengaruhi aktivitas ekonomi dunia, dengan data rinci dipadukan analisis ekonomi yang ketat.

Apa yang Sebenarnya Diumumkan Google

Google menyambut masuknya ekonom-ekonom terkemuka untuk ikut membangun dan memimpin perluasan program tersebut. Artikelnya ditulis oleh Scott Strand, Head of StratOps and Special Projects, Technology & Society, bersama Zanna Iscenko, AI & Economy Lead di Chief Economist’s Office Google.

Langkah ini disebut sebagai kelanjutan dari peluncuran AI & Economy ATLAS v1.0 beserta situs interaktifnya yang bisa diakses publik secara terbuka. ATLAS dibangun untuk memahami bagaimana orang memakai alat AI milik Google — baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Google menegaskan bahwa memetakan pola adopsi hanyalah permulaan; memahami pergeserannya butuh pendekatan multidisiplin.

Google menyatukan tiga lapis: penasihat eksternal, visiting scholar, dan kepemimpinan program riset yang khusus.

Siapa Saja Nama yang Masuk

Di jajaran Academic Advisor, ada Philippe Aghion — penerima Nobel Ekonomi 2025, pemegang Kurt Björklund Chaired Professor di INSEAD dan Collège de France. Ia bergabung bersama dua nama besar lain di grup penasihat: Michael Spence yang juga peraih Nobel, dan Dame Diane Coyle dari Cambridge. Kontribusi Aghion disebut akan dipakai untuk memodelkan lintasan makroekonomi jangka panjang AI, dibangun dari karyanya soal pertumbuhan yang digerakkan inovasi dan creative destruction.

Sebagai Visiting Fellow, masuk Ajay Agrawal, pemegang Geoffrey Taber Chair in Entrepreneurship and Innovation sekaligus Professor of Strategic Management di Rotman School of Management, University of Toronto. Ia akan bekerja erat dengan David Autor, Fellow yang sudah lebih dulu bergabung dan kini mengepalai Department of Economics MIT. Fokus kolaborasinya: ekonomi AI dan penemuan ilmiah, AI dan robotika, serta bagaimana AI bisa memperluas batas kesejahteraan manusia.

Ada pula dua Director baru yang akan mengarahkan proyek-proyek empiris dan menyatukan wawasan lintas agenda:

  • Anu Madgavkar — sebelumnya Partner di McKinsey Global Institute (MGI), dengan karier dua dekade memimpin riset global soal pasar tenaga kerja, adopsi teknologi, dan transisi ekonomi struktural. Ia rutin berkontribusi di World Economic Forum dan PBB. Di Google, ia memimpin riset empiris soal difusi AI global, ekosistem usaha kecil, dan dampak AI generatif terhadap tenaga kerja.
  • Daniel Rock — datang dari Wharton School, University of Pennsylvania. Ia ekonom terkemuka soal AI dan tenaga kerja serta ikut menulis makalah fondasional tentang transisi teknologi. Sebagai AI2050 Early Career Fellow dan MIT Digital Fellow, ia memimpin riset empiris Google dengan menjembatani telemetri model frontier dan ekonometri yang ketat untuk menganalisis produktivitas perusahaan, restrukturisasi tenaga kerja, dan penemuan ilmiah.

Madgavkar dan Rock akan memimpin program bersama Alex Imas, Director of AGI Economics di Google DeepMind, dan Zanna Iscenko di Chief Economist’s Office.

Fokus Riset dan Metodenya

Google menyebut empat wilayah inti yang diukur dan dianalisis secara real time: masa depan dunia kerja, produktivitas dan pertumbuhan, difusi teknologi global, serta dampak AI terhadap penemuan ilmiah.

Soal metodologi, dua hal yang paling konkret disebut sumber: pertama, pendekatan multidisiplin yang menggabungkan data beresolusi tinggi dengan penyelidikan ekonomi yang rigor. Kedua, pernyataan eksplisit soal cara kerja Daniel Rock — menyambungkan telemetri dari model AI frontier dengan ekonometri. Artinya, pola pemakaian AI dari produk nyata dijadikan bahan analisis statistik, bukan sekadar survei.

Sumber tidak menyebut angka, target capaian, maupun besaran anggaran apa pun.

Kenapa Dampak AI ke Pekerjaan Perlu Diukur Serius

Google mengawali argumennya dengan satu pengamatan: pergeseran teknologi hampir tidak pernah terjadi seketika. Karena itu program ini memilih mengukur evolusinya secara berjalan, ketimbang menunggu dampaknya terlanjur mengendap.

Tujuannya bukan cuma memaksimalkan peluang ekonomi dari AI, tetapi juga menekan disrupsi yang menyertainya. Google menyatakan tim yang diperluas ini akan berperan sebagai “jembatan ilmiah” yang langsung memberi masukan bagi pembaruan ATLAS dan riset empiris berikutnya. Fokus kolektifnya: mengidentifikasi praktik organisasi, kerangka kebijakan publik, dan program pelatihan yang dibutuhkan agar AI benar-benar meningkatkan keterampilan pekerja, mendemokratisasi keahlian, dan mendorong kemakmuran yang terbagi luas.

Google tidak hanya berbicara soal pertumbuhan agregat, tetapi soal siapa yang mendapat manfaatnya — dan itu hanya bisa dijawab kalau dampaknya diukur, bukan diasumsikan.

Catatan konteks lokal: sumber ini tidak menyebut Indonesia, maupun negara atau kawasan tertentu, secara spesifik. Jadi tidak ada dasar untuk menyimpulkan bentuk dampaknya bagi pasar kerja Indonesia. Yang bisa dikatakan, kerangka risetnya menyasar difusi teknologi global dan dampak AI generatif pada tenaga kerja, bukan hanya satu negara — tapi rinciannya belum ada di sumber ini.

Data dan publikasi risetnya bisa diakses terbuka di ai.google/economy.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top