Coinbase resmi mengajukan izin ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC) supaya bisa menawarkan perpetual futures berbasis saham tunggal (single-stock) di Amerika Serikat. Pengajuan itu dikirim lewat Coinbase Derivatives dan statusnya masih menunggu persetujuan regulator. Kalau lolos, trader AS bisa mendapat eksposur ke saham individual selama 24 jam lima hari seminggu tanpa perlu memiliki saham yang mendasarinya.
Apa yang Diajukan Coinbase dan ke Regulator Mana
Berkasnya diserahkan pada Jumat melalui Coinbase Derivatives. Isinya: permohonan persetujuan untuk mencatatkan kontrak perpetual futures berbasis saham individual di Amerika Serikat. Dalam klasifikasi CFTC, kontrak ini masuk kategori single-stock futures — produk derivatif yang nilainya mengikuti harga satu saham tertentu, bukan aset kripto. Statusnya masih pending.
Coinbase menyebut produk ini sebagai kelanjutan dari pasar perpetual futures yang sudah mereka jalankan di Amerika Serikat, dengan struktur yang kini dibawa ke saham individual untuk trader di sana.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Jumat, Coinbase berencana menawarkan perpetual futures untuk sekitar 50 sampai 60 saham pada tahap awal, di antaranya Apple, Microsoft, Tesla, dan Nvidia.
Jalur ke CFTC bukan satu-satunya. Sebelumnya, pada 1 September, Coinbase Derivatives mengajukan Form 1-N ke Securities and Exchange Commission (SEC) untuk mendaftar sebagai national securities exchange dengan tujuan menawarkan security futures. Jadi ada dua pintu regulasi yang disiapkan: CFTC untuk kontrak derivatifnya, SEC untuk status bursa efeknya.
Apa Itu Perpetual Futures dan Kenapa Versi Saham Tunggal Berbeda
Perpetual futures adalah kontrak berjangka tanpa tanggal jatuh tempo. Bedanya dengan futures biasa: kontrak konvensional punya masa berlaku, dan begitu habis trader harus memperpanjang posisi ke kontrak baru. Perpetual futures tidak punya batas itu — posisi bisa dibuka selama trader sanggup memenuhi persyaratan marginnya.
Struktur ini lahir dan besar di pasar kripto, tempat perdagangan berjalan tanpa jeda akhir pekan. Yang baru dari pengajuan Coinbase adalah barangnya dipindah ke saham individual di pasar Amerika Serikat.
Ada dua hal yang membuatnya berbeda dari derivatif saham yang jamak ditemui. Pertama, jam perdagangannya 24/5, bukan cuma mengikuti jam bursa saham AS. Kedua, basis kontraknya saham tunggal seperti Apple atau Nvidia, bukan indeks atau aset kripto.
Coinbase sebenarnya sudah menawarkan stock perpetual futures ke trader di luar Amerika Serikat sejak Maret. Kontraknya melacak saham dan indeks AS besar, termasuk Apple dan Nvidia. Saat itu perusahaan menyatakan produknya tidak tersedia untuk orang AS, dan mereka sedang berupaya memperluas penawaran ke wilayah lain.
Risiko buat Investor Ritel
Hal pertama yang perlu dipahami: trader tidak memegang sahamnya, hanya eksposur harga. Konsekuensinya, mereka tidak mendapat hak yang menempel pada kepemilikan saham — seperti dividen atau hak suara dalam rapat pemegang saham.
Kedua, sifatnya spekulatif. Karena nilainya mengikuti harga acuan, gerakan harga yang tajam berdampak langsung ke posisi trader. Mekanisme margin membuat kerugian bisa berlipat lebih cepat dibanding membeli sahamnya langsung dan menyimpannya.
Ketiga, jadwal 24/5 berarti posisi bisa diperdagangkan di luar jam bursa saham AS. Di jam-jam seperti itu, aktivitas pasar biasanya lebih tipis, sehingga selisih harga beli dan jual berpotensi melebar.
Keempat, risiko regulasi. Kontrak yang diajukan masih berstatus pending di CFTC, jadi bentuk akhirnya belum pasti — bisa disetujui, disetujui dengan syarat, atau tidak lolos sama sekali.
Kenapa Batas Kripto dan Pasar Saham Makin Kabur
Pengajuan ini contoh paling gamblang dari konvergensi dua dunia yang dulu terpisah. Coinbase bukan lagi sekadar bursa kripto: mereka menyiapkan jalur kontrak derivatif di CFTC sekaligus mengurus status bursa efek di SEC untuk produk yang sama-sama menyangkut saham.
Kebiasaan pasar ikut menyatu. Trader kripto sudah terbiasa dengan bursa yang tidak pernah tutup dan produk berleverage. Sekarang pola yang sama ditawarkan untuk saham Apple dan Microsoft. Sebaliknya, orang yang datang dari dunia saham dipaksa beradaptasi dengan market structure khas kripto: kontrak tanpa jatuh tempo, jadwal berjalan terus, dan eksposur harga tanpa kepemilikan saham asli.
Arahnya cukup jelas. Batas antara aset kripto dan instrumen pasar modal tradisional makin tipis, dan pertarungan aturannya akan makin sering terjadi di dua regulator sekaligus. Untuk pelaku pasar di luar Amerika Serikat, ini sinyal bahwa struktur produk yang lahir di kripto sedang diuji di pasar ekuitas terbesar dunia — dan hasilnya bakal jadi acuan apakah model serupa menyebar ke yurisdiksi lain.


