Perusahaan rekayasa Samsung C&T, bagian dari Samsung Group, dipilih Kairos Power untuk membantu membangun reaktor nuklir demonstrasi berdaya 50 megawatt yang akan memasok listrik bagi data center Google. Nilai kesepakatan yang diumumkan Senin itu mencapai hingga 100 juta dolar AS, terdiri dari investasi ekuitas dan jasa rekayasa. Reaktor tersebut ditargetkan rampung pada 2030.
Berapa Besar Dananya?
Menurut Kairos Power, Samsung C&T akan menanamkan modal alias investasi ekuitas di perusahaan rintisan nuklir tersebut, sekaligus menyediakan layanan rekayasa secara in-kind — maksudnya dibayar dalam bentuk jasa, bukan uang tunai. Kombinasi keduanya bernilai hingga 100 juta dolar AS. Juru bicara Kairos kepada TechCrunch menyebut porsi investasi ekuitas mencapai 70 juta dolar AS dari total itu.
Bukan pilihan sembarangan. Samsung C&T disebut telah membangun atau ikut membangun sekitar selusin reaktor nuklir di berbagai belahan dunia — pengalaman yang dibutuhkan Kairos untuk mempercepat proyek ambisiusnya.
Apa Itu Reaktor SMR dan Kenapa Cocok untuk Data Center?
SMR alias small modular reactor adalah reaktor nuklir berukuran kecil yang dirancang bisa diproduksi massal di pabrik, lalu dirakit di lokasi pemakaian seperti menyusun balok. Karena dayanya kecil — puluhan sampai ratusan megawatt, jauh di bawah reaktor konvensional yang kapasitasnya bisa di atas 1.000 megawatt — SMR bisa dibangun lebih cepat, lebih murah, dan ditempatkan dekat dengan pemakainya.
Di kasus Kairos, reaktor Hermes 2 saja hanya berdaya 50 megawatt. Daya sebesar itu terlalu kecil untuk menyalakan sebuah kota besar, tapi pas untuk satu kampus data center yang harus menyala 24 jam nonstop.
Desain Hermes 2 memakai pendingin garam fluorida bersuhu tinggi (fluoride salt-cooled high-temperature reactor) — desain yang sudah lama dibicarakan, tetapi belum pernah dibangun dalam skala komersial. Garam fluorida punya titik didih tinggi, sehingga tekanan di dalam reaktor bisa dijaga tetap rendah. Efeknya, risiko ledakan atau kebocoran akibat tekanan tinggi ketika ada komponen yang rusak jadi lebih kecil.
Bahan bakarnya juga berbeda dari reaktor biasa. Kairos memakai TRISO, bentuk bahan bakar nuklir yang relatif baru: serbuk uranium berukuran sangat kecil dibungkus beberapa lapis keramik dan karbon, lalu dimasukkan ke bola seukuran bola biliar. Susunan berlapis inilah yang dirancang mencegah meltdown atau lelehan inti reaktor.
Seberapa Jauh Hubungan Google dan Kairos?
Google pertama kali meneken perjanjian dengan Kairos Power pada musim gugur 2024. Dalam kerja sama itu, Google meminta Kairos membangun reaktor nuklir dengan kapasitas listrik sekitar setengah gigawatt pada 2035. Listrik dari Hermes — reaktor yang dibangun di Oak Ridge, Tennessee — akan dihitung sebagai 50 megawatt pertama dari perjanjian tersebut.
Jadwal Proyek Kairos Power
Saat ini Kairos sedang membangun dua reaktor di Oak Ridge, Tennessee. Yang pertama, Hermes 1, adalah demonstran berdaya rendah yang dipakai untuk menyempurnakan desain komersial perusahaan. Yang kedua, Hermes 2, adalah reaktor berskala komersial pertama Kairos dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2030 — sejalan dengan perjanjian awalnya dengan Google. Izin membangun sudah dipegang Kairos setelah mendapat persetujuan Nuclear Regulatory Commission (NRC) pada akhir 2024.
Kairos punya waktu sekitar lima tahun untuk menyalakan pembangkit pertamanya. Tenggat itu disebut dipercepat, tetapi masih terkelola untuk ukuran industri nuklir. Untuk memenuhi seluruh komitmen kepada Google, Kairos harus bergerak lebih cepat lagi pada reaktor-reaktor berikutnya — dan di titik itulah kehadiran Samsung C&T diharapkan membantu.
Kenapa Raksasa Teknologi Mulai Beli Listrik Nuklir
Kairos adalah bagian dari gelombang startup nuklir yang diuntungkan oleh lonjakan permintaan listrik dari data center AI. Pusat data seperti ini menuntut pasokan daya besar yang stabil setiap saat, sementara sumber terbarukan seperti matahari dan angin bergantung pada cuaca dan waktu. Nuklir menawarkan listrik yang stabil, padat energi, dan rendah karbon.
Itu sebabnya makin banyak perusahaan teknologi memilih mengontrak langsung pembangkit listriknya sejak awal, bukan menunggu jaringan listrik publik diperluas. Pola yang sama terlihat pada langkah Google mengikat Kairos jauh sebelum reaktor pertamanya menyala: kunci pasokannya dulu, urusan pembangunannya belakangan. Bagi Kairos, dana dan keahlian Samsung C&T menjadi bahan bakar tambahan di tengah tenggat yang makin sempit.
Sumber
- TechCrunch — Kairos Power gets up to $100M from Samsung group to build nuclear reactor for Google, oleh Tim De Chant, 21 September 2026: techcrunch.com


