Geely Siapkan Charger EV 2,2 MW, Isi 4 Menit

feat geely charger

Geely bersiap meluncurkan charger pengisian cepat berdaya 2,2 MW yang diklaim mampu mengisi daya mobil listrik dalam waktu sekitar empat menit. Angka itu sekitar 50% lebih tinggi dari sistem “Flash Charging 2.0” milik BYD yang berdaya 1,5 MW, sehingga langsung memantik perang teknologi pengisian daya di pasar mobil listrik Tiongkok. Pengumuman resminya dijadwalkan pada Rabu, 23 September 2026, di Geely Global All-Domain Safety Center di Ningbo, Tiongkok.

Spesifikasi yang Diklaim Geely

Dari unggahan media sosial Geely akhir pekan lalu, perusahaan menyebut acara itu sebagai “Global Launch of Geely’s Next-Generation AI Smart Charging Technology” dengan slogan “Charge in Four Minutes, Drive with Peace of Mind” — isi ulang empat menit, berkendara dengan tenang. Detail teknisnya sendiri belum dibuka, jadi angka 2,2 MW dan klaim empat menit itu masih perlu dikonfirmasi saat peluncuran resmi.

Sebagai gambaran, Electrek mencatat sistem ini kira-kira enam kali lebih cepat dari apa pun yang tersedia di Amerika Serikat saat ini. Charger ini bahkan melampaui lokasi Megacharger pertama Tesla yang berdaya 1,2 MW — bedanya, Megacharger Tesla dirancang untuk truk raksasa, sementara charger Geely menyasar kendaraan konsumen dengan baterai yang jauh lebih kecil. Menurut Electrek, sumbernya belum menyebutkan arsitektur voltase maupun konfigurasi kelistrikan di balik sistem ini.

Uniknya, Geely dan BYD sudah mulai mengukur waktu pengisian dalam satuan detik, bukan menit. BYD dengan baterai Blade 2.0 menyebut angka 5 menit, sedangkan baterai Golden Brick milik Geely menyebut 4 menit 22 detik. Artinya, selisih yang diperdebatkan kedua raksasa otomotif Tiongkok itu tinggal hitungan puluhan detik.

Perbandingan dengan BYD

BYD memimpin gelombang pertama lewat Flash Charging 2.0 berdaya 1,5 MW. Kapasitas 2,2 MW milik Geely berarti sekitar sepertiga lebih besar lagi — cukup untuk menggeser posisi BYD sebagai pemegang rekor pengisian tercepat. Menariknya, Geely menyebut empat menit bukan lompatan yang terlalu drastis dibandingkan apa yang sudah bisa dilakukan model Lynk & Co. 10, jadi sebagian nilai jualnya justru ada pada kestabilan dan konsistensi, bukan semata angka puncaknya.

Perlu dicatat juga, Electrek menyoroti bahwa klaim “empat menit” itu belum jelas diukur dari titik mana. Sebagian besar pengisian daya mobil listrik dikutip dari rentang 10–70% atau 10–80%, karena kecepatan pengisian biasanya melorot tajam saat mendekati 100%. Artinya, angka waktu pengisian bisa terlihat lebih mengesankan atau lebih biasa tergantung titik awal dan akhir pengukurannya.

Kendala Nyata Fast Charging

Pertama, soal umur baterai. Geely mengaitkan sistem ini dengan algoritma pengisian cerdas berbasis AI yang disebut membantu mengelola suhu dan umur pakai baterai, dengan klaim 3.500 siklus pengisian-pengosongan “dengan degradasi terbatas”. Panas berlebih adalah musuh utama baterai lithium, jadi kemampuan menjaga suhu saat daya 2,2 MW mengalir masuk adalah kunci apakah klaim itu bertahan di pemakaian sehari-hari.

Kedua, beban jaringan listrik. Mengisi daya mobil dalam empat menit berarti memindahkan energi dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat, sehingga satu stasiun pengisian kelas megawatt menuntut pasokan daya yang besar dan stabil. Di banyak tempat, jaringan listrik distribusi belum siap menanggung lonjakan sebesar itu tanpa buffer penyimpanan energi di sisi stasiun.

Ketiga, kabel dan konektor. Arus sebesar itu menghasilkan panas tinggi, sehingga charger kelas MW butuh sistem pendinginan aktif dan kabel khusus yang jauh lebih berat dari kabel pengisian cepat biasa. Semua infrastruktur tambahan ini membuat biaya pembangunan stasiun jauh lebih mahal daripada charger konvensional.

Apa Artinya buat Pasar EV, Termasuk Indonesia

Bagi konsumen, kabar ini menandakan durasi pengisian yang semakin mendekati waktu isi bensin. Tapi manfaatnya baru terasa kalau ekosistemnya menyusul: tidak ada artinya punya mobil yang bisa diisi dalam empat menit jika charger sekelasnya nyaris tak ada di jalan.

Untuk Indonesia, lompatan ini lebih relevan sebagai pertanda arah industri. Geely dan BYD sama-sama sudah memasarkan mobil listrik di Indonesia, dan keduanya berlomba menghadirkan model dengan kecepatan pengisian yang lebih baik. Namun mayoritas infrastruktur pengisian daya di dalam negeri masih beroperasi di kelas daya yang jauh lebih rendah daripada 1,5–2,2 MW, karena kapasitas jaringan listrik dan pola pemakaian di sini berbeda dari Tiongkok.

Praktisnya, charger megawatt belum jadi prioritas jangka pendek di Indonesia. Yang lebih dulu dibutuhkan adalah pengisian cepat yang andal di jalur antarkota, pengisian malam di rumah, dan kepastian bahwa baterai tetap awet di iklim tropis. Kalau nanti teknologi ini mulai diekspor, Indonesia berpotensi jadi salah satu pasar penerimanya — dengan catatan kesiapan jaringan listrik dan harga jual tetap jadi penentu utama.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top