Raksasa kendaraan listrik asal China, BYD, dikabarkan berniat membangun pabrik baterai di Subang demi memperkuat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Langkah ini menandakan rantai pasok EV Indonesia kian strategis dan mulai bergerak ke hilir.
Kabar ini datang setelah pabrik perakitan BYD di Subang resmi beroperasi. Di lokasi yang sama, BYD disebut menargetkan TKDN hingga 60% mulai Januari 2027, bahkan untuk beberapa model seperti M6 targetnya lebih tinggi lagi. Perusahaan juga dikabarkan siap merakit baterai secara lokal.
Investasi dan Kapasitas Pabrik Subang
Pabrik BYD di Subang merupakan investasi besar. Sejumlah laporan menyebut nilai investasinya mencapai Rp11,7 triliun dengan kapasitas produksi mobil listrik hingga 150.000 unit per tahun. Ini bukan sekadar perakitan; kehadiran BYD di Subang diharapkan jadi penggerak ekosistem industri kendaraan listrik di Indonesia.
Pabrik itu diresmikan pada Kamis, 3 September 2026. Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, menekankan bahwa peningkatan kandungan lokal sama pentingnya dengan investasi di luar perakitan. BYD disebut membangun proses manufaktur lengkap dengan empat tahap utama: stamping, welding, painting, dan assembly. Model yang selama ini mencatat penjualan tertinggi antara lain Atto 1, M6, M6 DM, dan Denza D9.
Peta Jalan TKDN 60 Persen
Saat ini BYD mengklaim sudah memenuhi TKDN di atas 40%, didukung kemitraan dengan sejumlah produsen komponen dalam negeri, termasuk di bidang produksi dan daur ulang baterai. Perusahaan optimistis kewajiban 60% bisa mulai terpenuhi pada Januari 2027, dan menyebut dirinya siap menjadi salah satu yang pertama memenuhi aturan tersebut.
Sebelum pabrik beroperasi, BYD sempat mengandalkan impor dan dilaporkan telah menjual hingga sekitar 92.000 unit. Ke depan, pasokan utama diarahkan datang dari produksi di Subang, sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mengikuti regulasi pemerintah pada produk-produk berikutnya.
TKDN: Taruhan RI untuk Tak Jadi Tukang Rakit
Kebijakan TKDN menjadi semacam taruhan bagi Indonesia agar tidak sekadar jadi “tukang rakit” dalam rantai pasok global. Dengan menuntut kandungan lokal yang tinggi, pemerintah berharap nilai tambah industri kendaraan listrik tetap berada di dalam negeri, bukan sekadar upah perakitan yang kecil.
Meski pemerintah mendorong penggunaan baterai dari nikel, BYD dikabarkan tetap mengandalkan teknologi baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) yang lebih murah dan aman. Ini menciptakan dinamika tersendiri dalam kebijakan hilirisasi nikel yang selama ini diusung pemerintah. Artinya, dorongan agar industri EV menyerap nikel dalam negeri tidak otomatis sejalan dengan pilihan teknologi pabrikan.
Peluang dan Tantangan ke Depan
Bagi investor dan pelaku industri, langkah BYD membangun pabrik baterai di Subang adalah sinyal positif: bukan cuma mobil, tapi komponen kuncinya pun mulai diproduksi lokal. Ini bisa menarik pemasok dan tenaga kerja terampil untuk tumbuh di sekitar kawasan industri, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi EV kawasan.
Namun tantangan tetap ada — dari ketersediaan tenaga kerja terampil hingga kepastian regulasi dan insentif yang berkelanjutan. Jika ekosistem baterai dan komponen lokal benar-benar matang, target TKDN 60% bisa menjadi tonggak penting, bukan hanya angka di atas kertas.
Bagi pasar otomotif Indonesia, perakitan baterai lokal berpotensi menurunkan biaya produksi sekaligus mempercepat pemenuhan syarat TKDN untuk berbagai model. Semakin banyak komponen dibuat di dalam negeri, semakin kecil ketergantungan pada impor komponen mahal.
Kebijakan TKDN sendiri dirancang sebagai alat industri, bukan sekadar syarat administratif. Tujuannya agar investasi besar pabrikan asing benar-benar menyerap tenaga kerja, teknologi, dan rantai pasok lokal, sehingga nilai tambahnya tinggal di Indonesia.
Namun pengalaman menunjukkan target kandungan lokal bisa sulit dipenuhi bila rantai pasok pendukung belum siap. Karena itu, keberhasilan BYD dan pemasok lokalnya akan jadi tolok ukur apakah strategi hilirisasi EV benar-benar berjalan, atau baru berhenti di tahap perakitan.
Kehadiran rantai pasok baterai lokal juga membuka peluang bagi industri pendukung, mulai dari komponen elektronik, sistem manajemen baterai, hingga layanan daur ulang. Ekosistem inilah yang membuat target TKDN lebih realistis dalam jangka panjang. Jika berhasil, langkah ini bisa jadi cetak biru bagi pabrikan EV lain yang ingin memenuhi aturan kandungan lokal tanpa kehilangan daya saing harga.


