NASA Aktifkan Kamera 300MP Teleskop Roman

feat nasa roman camera

NASA berhasil menyalakan kamera inframerah 300 megapiksel milik Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman. Instrumen bernama Wide Field Instrument (WFI) itu kini benar-benar beroperasi di ruang angkasa, dan sistem pencitra planetnya, Coronagraph Instrument, juga sudah melewati pengecekan awal.

Kabar ini dilaporkan ScienceDaily pada 21 September 2026, mengutip materi resmi NASA. WFI dirancang memotret wilayah langit yang sangat luas sekaligus menangkap detail halus seperti yang biasa dihasilkan Teleskop Luar Angkasa Hubble.

Wide Field Instrument resmi menyala

Wide Field Instrument adalah kamera inframerah 300 megapiksel yang tugasnya menyapu area langit dalam jumlah besar dengan cepat. Setelah bertahun-tahun dibangun dan diuji di Bumi, tim misi akhirnya mendapat konfirmasi instrumen ini berfungsi di orbit.

“Setelah bertahun-tahun upaya membangun dan menguji instrumen ini di darat, kini kami punya konfirmasi bahwa ia beroperasi di ruang angkasa. Ini tonggak besar bagi tim di Goddard, tim industri kami di BAE Systems, Inc. dan Teledyne, serta pusat-pusat sains kami,” kata Josh Schlieder, ilmuwan Wide Field Instrument di NASA Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Maryland.

Apa arti 300 megapiksel dan lapang pandang luas?

Megapiksel adalah ukuran seberapa banyak titik gambar (piksel) yang bisa direkam kamera dalam satu kali jepretan. Kamera ponsel umumnya 12 sampai 50 megapiksel, jadi 300 megapiksel berarti sekitar enam kali lebih banyak detail piksel dalam satu frame.

Yang membuat Roman istimewa bukan cuma jumlah pikselnya, tapi kombinasi lapang pandang (field of view) yang sangat lebar dengan resolusi tinggi. Lapang pandang adalah seberapa luas area langit yang masuk ke dalam satu foto. Teleskop luar angkasa biasanya harus memilih: area luas dengan detail rendah, atau area sempit dengan detail tajam. Roman mencoba keduanya sekaligus — satu gambar WFI akan mencakup area langit yang lebih besar daripada ukuran tampak Bulan purnama. Kombinasi inilah yang memungkinkan survei langit berskala raksasa, sesuatu yang tidak efisien dilakukan teleskop berlapang pandang sempit.

Kamera didinginkan sampai minus 183 derajat Celsius

Sebelum WFI dinyalakan, instrumennya menjalani 10 hari proses pengeringan dan dekontaminasi. Selama periode itu, detektornya dijaga pada suhu minus 85 derajat Fahrenheit (minus 65 derajat Celsius) — masih terbilang “hangat” dibanding suhu kerja akhirnya.

Pada pagi 11 September, tim mematikan pemanas instrumen dan membiarkan WFI mendingin hingga minus 225 derajat Fahrenheit (minus 143 derajat Celsius). Pada suhu itulah para insinyur mengaktifkan 18 detektor inframerah Roman. Digabungkan, area peka cahaya dari seluruh detektor itu kira-kira seluas layar laptop.

Malam harinya sistem kalibrasi dinyalakan, dan keesokan paginya insinyur mulai mengirim data uji melalui WFI ke tim di Bumi. Sepanjang pengujian, detektor terus mendingin menuju suhu operasi akhir sekitar minus 300 derajat Fahrenheit (minus 183 derajat Celsius).

Uji filter, fokus, dan roda elemen

Pada Sabtu malam, perhatian tim beralih ke element wheel, komponen berisi filter, prisma, dan elemen optik lain yang mengatur panjang gelombang cahaya mana yang mencapai detektor, sekaligus bisa memecah cahaya objek kosmik menjadi warna-warna terpisah. Ini kali pertama mekanisme itu diuji tanpa pengaruh gravitasi.

Menjelang Minggu pagi, tim menguji mekanisme pemfokusan WFI — sistem krusial untuk menjaga ratusan ribu gambar yang akan diambil Roman tetap tajam. Hasil seluruh pengujian menunjukkan Wide Field Instrument berfungsi sesuai harapan.

Coronagraph juga lolos pengecekan awal

Roman juga membawa Coronagraph Instrument, sistem yang dibangun untuk mendemonstrasikan teknologi paling canggih yang pernah dikirim ke ruang angkasa untuk memotret langsung planet yang mengorbit bintang lain. Instrumen ini menggabungkan optik, masker, cermin yang bisa melentur sendiri (deformable mirror), dan sensor untuk menekan silau luar biasa terang dari sebuah bintang. Dengan memblokir cahaya bintang, coronagraph bisa menangkap cahaya jauh lebih redup yang dipantulkan planet di sekitarnya.

Tim di Coronagraph Commanding Center, Caltech/IPAC, Pasadena, California, memverifikasi bahwa mereka bisa berkomunikasi dengan setiap bagian utama instrumen: perangkat lunak, kontrol termal, mekanisme, kamera, hingga avioniknya. Insinyur juga memastikan sistem termalnya mampu menghangatkan perangkat ke suhu operasi 72 derajat Fahrenheit (22 derajat Celsius). Kecuali detektornya, coronagraph memang dirancang beroperasi mendekati suhu ruangan.

“Sekarang setelah tes ini selesai, kami sedang melakukan dekontaminasi: dibiarkan menganggur dengan detektor hangat supaya apa pun yang menempel di permukaan, seperti air atau jejak bahan kimia, cenderung lepas,” kata Eric Cady, insinyur optik yang memimpin upaya commissioning Roman Coronagraph di NASA Jet Propulsion Laboratory, California Selatan. Proses itu berlangsung 30 hari.

Menuju L2, citra sains pertama awal 2027

Semua pengujian ini bagian dari proses commissioning berbulan-bulan, sementara Roman masih dalam perjalanan sekitar satu juta mil menuju titik Lagrange kedua (L2). Misi ini sudah diluncurkan pada 31 Agustus 2026, dan Roman tetap sesuai jadwal merilis citra sains pertamanya pada awal 2027.

Sains apa yang dibidik Roman

Kombinasi cakupan luas dan detail tinggi membuat Roman cocok untuk survei kosmik berskala besar. Para ilmuwan berencana memakai observasi itu untuk mempelajari planet-planet di luar Tata Surya, menyelidiki misteri seperti energi gelap, dan meneliti bagaimana materi tersusun di seluruh alam semesta. Observasi Roman juga diharapkan menjadi kumpulan data berharga bagi banyak studi ilmiah lain.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top