Android Central Kena PHK Seluruh Staf, tapi Situsnya Jalan Terus
Android Central, blog yang bertahun-tahun jadi rujukan buat pengguna Android, resmi kehilangan staf penuh waktunya. Pemiliknya, Future, mengonfirmasi PHK itu ke The Verge, tapi sekaligus memastikan situsnya tidak ditutup. Jadi untuk sekarang, Android Central hidup tanpa orang-orang yang biasanya mengisinya.
Kabar ini dilaporkan jurnalis The Verge, Jay Peters, pada 1 Oktober 2026. PHK-nya sendiri terjadi sehari sebelumnya, dan yang pertama muncul ke permukaan justru orang-orangnya sendiri, bukan pernyataan resmi perusahaan.
Empat dari Enam Nama Bicara Terbuka
Menurut laporan tersebut, empat dari enam nama yang tercantum di halaman staff Android Central memposting secara publik soal PHK ini: Shruti Shekar, Derrek Lee, Harish Jonnalagadda, dan Nicholas Sutrich. Namerah Saud Fatmi, mantan senior editor di situs itu, memperbarui profil LinkedIn-nya untuk menandai bahwa masa kerjanya di Android Central sudah berakhir.
Dua nama di antaranya memberi konfirmasi paling gamblang. Derrek Lee yang menjabat sebagai managing editor, dan Sutrich, sama-sama menyatakan bahwa seluruh staf yang tersisa ikut kena PHK. Yang bikin situasinya makin pahit: para mantan staf itu tidak diberi tahu apakah situsnya bakal ditutup atau tidak.
Future: Situsnya Lanjut, Detailnya Nanti
Pihak yang paling berwenang bicara, yaitu Future selaku publisher, memilih jalan hati-hati. Juru bicara mereka memberi pernyataan singkat ke The Verge, dan isinya dua hal yang kontradiktif kalau dibaca dari kacamata orang yang baru kehilangan pekerjaan.
“Future will continue to publish Android Central. We’ll share further information about the future of the site in due course. We will not be providing any further comment at this time.” — Nicole Martineau, juru bicara Future
Perhatikan frasa “in due course”. Tidak ada arahan soal kapan, tidak ada penjelasan soal alasan PHK, dan tidak ada rincian soal model bisnis situsnya setelah ini. Sepanjang isi laporan The Verge, alasan PHK memang tidak disebutkan sama sekali.
Yang menarik, situsnya benar-benar masih jalan. Keesokan harinya setelah PHK, artikel baru sudah tayang di Android Central. Bedanya, semuanya datang dari kontributor freelance, bukan dari staf penuh waktu yang sebelumnya mengurus situs itu. Jadi kalau kamu buka Android Central sekarang, kamu melihat sebuah operasi media yang tulangnya sudah dicabut, tapi kulitnya masih dibiarkan menempel.
Android Police Ikut Kena, dan Polanya Terlihat
Android Central bukan satu-satunya yang kena. Android Police, blog lain yang juga fokus di ekosistem Android, baru saja melakukan PHK terhadap setidaknya dua orang staf. Situs itu kini mencantumkan tim editorial berisi empat orang.
Yang membedakan: Android Police dimiliki Valnet, perusahaan yang sebelumnya juga mengakuisisi Polygon, situs yang jadi saudara sekaligus tetangga The Verge di bawah kepemilikan yang sama. Valnet tidak langsung menjawab permintaan komentar dari The Verge soal PHK di Android Police.
Kalau ditarik benangnya, ini pola yang makin sering muncul di media teknologi: angka kunjungan dan ad revenue jadi jauh lebih sulit dipertahankan, sementara biaya produksi konten tetap tinggi. Di titik itu, freelance jadi pilihan paling murah — dan nama-nama yang dulu membangun kredibilitas situsnya jadi pengeluaran pertama yang digunting.
Buat Pembaca di Indonesia, Ini Bukan Cuma Drama Kantor di Amerika
Buat kamu yang tiap hari mengonsumsi media teknologi berbahasa Inggris — entah buat nyari review HP, perbandingan software, atau sekadar baca opini soal update Android — PHK model begini langsung terasa. Ulasan yang dulu ditulis orang yang sama selama bertahun-tahun akan digantikan oleh kontributor lepas yang berganti-ganti, dengan konteks perangkat dan pasar yang belum tentu dikuasai.
Media teknologi Indonesia sendiri tidak kebal dari tekanan yang sama: search traffic yang makin tergerus jawaban instan di mesin pencari, tuntutan produksi cepat untuk media sosial, dan penonton yang lebih suka video pendek ketimbang artikel panjang. Jadi keputusan Future di Android Central bukan cerita jauh tentang korporasi media asing, tapi potret versi besarnya dari apa yang bisa terjadi di mana saja.
Yang paling tidak nyaman dari cerita ini adalah urutan kejadiannya: stafnya diberi tahu belakangan dibanding pembaca, dan publikasinya justru jadi tempat pertama kita tahu bahwa orang-orang di baliknya sudah tidak ada. Future bilang akan berbagi informasi lebih lanjut soal masa depan Android Central. Sampai itu datang, yang kita punya cuma situs yang terus terbit tanpa orangnya.


