Danantara Tunjuk Len Industri Pimpin Chip AI Mobil

feat danantara chip

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menugaskan PT Len Industri (Persero) memimpin pengembangan chip otomotif berbasis kecerdasan buatan atau AI. Chip itu disiapkan untuk memasok kebutuhan proyek mobil nasional (mobnas), dan dalam pengerjaannya Len disebut boleh menggandeng produsen arsitektur chip.

Penugasan tersebut disampaikan Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, di sela LEN Technology Day di ITB Innovation Park, Bandung, Rabu (7/10). Menurut Sigit, satu unit kendaraan sedikitnya membutuhkan 600 hingga 700 chip semikonduktor. Jumlah itu memperlihatkan betapa besar kebutuhan komponen di balik satu mobil, jauh di atas kesan bahwa kendaraan hanya soal mesin dan bodi.

“Karena besarnya kebutuhan, penguasaan teknologi ini menjadi kunci utama penguatan industri otomotif dan elektronika dalam negeri,” kata Sigit.

Dari situ logikanya cukup lurus. Kalau satu kendaraan saja menyerap ratusan chip, kemampuan mendesain, dan kelak memproduksi chip sendiri, menjadi penentu seberapa mandiri industri otomotif dalam negeri. Tanpa penguasaan teknologi ini, proyek mobil nasional tetap bergantung pada pasokan chip dari luar.

Kenapa chip otomotif jadi taruhan besar

Mobil modern bukan lagi sekadar mesin dan rangka. Ratusan chip semikonduktor mengatur hampir semua fungsi: sistem keselamatan, kontrol mesin, hiburan di kabin, sampai manajemen baterai pada kendaraan listrik. Semakin canggih dan terhubung sebuah mobil, semakin banyak komponen elektronik yang harus tertanam di dalamnya.

Semikonduktor sendiri menjadi salah satu komoditas paling diperebutkan di rantai pasok global. Ketika pasokan chip terganggu, dampaknya tidak main-main: lini produksi mobil di banyak negara sempat terpaksa melambat karena kekurangan komponen. Itulah alasan chip otomotif dianggap sebagai bagian dari kedaulatan industri, bukan sekadar urusan teknis. Sebagian besar chip yang beredar di dalam negeri masih berasal dari pemasok luar, sehingga penguasaan desain dan produksi di dalam negeri menjadi taruhan jangka panjang.

Jejak LEN: dari Molinas ke chip AI

PT Len Industri bukan nama baru. Perusahaan elektronika milik negara yang berpusat di Bandung ini sudah lama mengerjakan sistem persinyalan kereta, jaringan infrastruktur telekomunikasi, hingga pembangkit listrik tenaga surya. Namanya juga muncul di sejumlah proyek transportasi publik, mulai dari LRT hingga skytrain bandara.

Yang membuat penugasan chip kali ini menarik, LEN baru saja dipercaya pada program kendaraan listrik. Pemerintah menunjuk Len sebagai pelaksana pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas). Penunjukan itu tertuang dalam surat penugasan dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi tertanggal 12 Agustus 2026, yang merujuk arahan Presiden pada Rapat Terbatas 14 Juli 2026. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, menyebut Len berperan sebagai lead integrator program Molinas.

Target 15.000 insinyur dalam 3–4 tahun

Sigit menyebut salah satu tantangan utama pengembangan teknologi semikonduktor adalah kelangkaan talenta, khususnya di sektor mikroelektronika. Untuk mengatasinya, Danantara mematok target pelatihan dan sertifikasi bagi minimal 15.000 insinyur di bidang semikonduktor dalam waktu tiga hingga empat tahun ke depan.

Program itu akan dijalankan bersama sejumlah perguruan tinggi, antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB). Sigit mengungkapkan Danantara menerapkan strategi triangle yang menyatukan sektor industri, investasi, serta pusat riset dan sumber daya manusia unggulan. Karena itu ia menyebut ITB Innovation Park penting sebagai titik temu antara industri dan riset agar hasil pengembangan bisa menjadi inovasi nasional.

Yang masih menunggu kejelasan

Meski arahnya sudah ditegaskan, sejumlah hal belum terperinci dalam pengumuman itu. Nama produsen arsitektur chip yang akan diajak kerja sama belum disebut, begitu pula bentuk kemitraannya. Belum jelas apakah Indonesia akan langsung menyentuh tahap fabrikasi atau memulai dari desain dan pengujian terlebih dahulu, mengingat membangun pabrik chip butuh investasi besar dan waktu panjang.

Soal waktu pun masih terbuka. Target 15.000 insinyur bersertifikat dalam tiga sampai empat tahun menyangkut penyiapan sumber daya manusia, sementara mengembangkan chip otomotif yang benar-benar dipakai di jalan butuh siklus pengujian dan sertifikasi yang tidak singkat. Jadi penugasan kepada LEN ini lebih tepat dibaca sebagai titik awal, bukan garis akhir.

Sumber

  • Katadata — “Danantara Tugaskan PT LEN Buat Chip AI untuk Mobil Nasional” (7 Oktober 2026): https://katadata.co.id/finansial/korporasi/6ac63e3c4eef4/danantara-tugaskan-pt-len-buat-chip-ai-untuk-mobil-nasional
  • ANTARA — “Danantara minta PT LEN segera buat chip untuk mobil nasional” (7 Oktober 2026): https://www.antaranews.com/berita/5775645/danantara-minta-pt-len-segera-buat-chip-untuk-mobil-nasional
  • CNN Indonesia — “Danantara Tugaskan Len Industri Garap Chip AI untuk Mobil Nasional” (10 Oktober 2026): https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20261009164430-579-1413623/danantara-tugaskan-len-industri-garap-chip-ai-untuk-mobil-nasional
  • Liputan6 — “Danantara Garap Chip Semikonduktor Mobil Nasional, Butuh 15.000 Insinyur” (8 Oktober 2026): https://www.liputan6.com/bisnis/read/8308493/danantara-garap-chip-semikonduktor-mobil-nasional-butuh-15000-insinyur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top