Penyaluran pembiayaan alternatif di luar perbankan — pinjaman online (pinjol), paylater, hingga gadai — melonjak tajam. Di balik perluasan akses keuangan, ada pertanyaan besar: ini sinyal sukses inklusi atau alarm tekanan daya beli?
Angka yang Melesat
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan pembiayaan pada Juli 2026 secara tahunan (year-on-year) tercatat sebagai berikut: pergadaian naik 50,73%, buy now pay later (BNPL) perusahaan pembiayaan 54,65%, paylater perbankan 31,22%, dan pinjol 24,76%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pesatnya pembiayaan digital didorong kemudahan akses, nominal pinjaman kecil, serta masih banyaknya kelompok yang belum terlayani bank (unbanked). “Pembiayaan digital bisa diakses cepat, nominal kecil, tanpa agunan, dan langsung tersedia saat transaksi,” ujarnya.
Pedang Bermata Dua
Faktor ini sangat relevan di Indonesia, mengingat sekitar 87,88 juta pekerja atau 59,3% penduduk bekerja di sektor informal — kelompok yang kerap kesulitan memenuhi syarat administrasi bank seperti bukti penghasilan.
Namun Josua menyoroti kesenjangan besar antara pertumbuhan utang dan kapasitas ekonomi riil. Pertumbuhan pinjaman digital 25–55% dinilai tidak sejalan dengan konsumsi rumah tangga kuartal II yang hanya tumbuh 5,06%. Tingkat gagal bayar pinjol lebih dari 90 hari (TWP90) pada Juli juga sedikit memburuk ke 4,32% dari 4,26% pada Juni, sementara NPF gross BNPL berada di 3,09%.
Risiko “Gali Lubang Tutup Lubang”
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengendus indikasi praktik peminjam mengambil utang baru di platform lain untuk melunasi cicilan lama (refinancing). “Risiko itu meningkat ketika satu konsumen punya banyak fasilitas jangka pendek dari beberapa platform, sebab jatuh tempo bisa menumpuk sebelum pendapatan berikutnya diterima,” katanya.
Ia menegaskan pencegahan gagal bayar harus dimulai sebelum kredit disetujui, lewat uji kelayakan finansial (affordability test) lintas lembaga dan integrasi SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan). Jadi, meski inklusi keuangan membaik, regulator punya tugas memisahkan mana pertumbuhan yang sehat dan mana yang sekadar alarm daya beli.
Sumber: CNN Indonesia — Pembiayaan Nonbank Melaju, Sinyal Sukses Inklusi atau Alarm Daya Beli?.


