Aksi jual obligasi pemerintah global terus berlanjut, mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kekhawatiran soal inflasi, suku bunga tinggi, dan beban utang yang membengkak membuat investor makin gelisah.
Yield bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi. Ketika investor berbondong-bondong melepas surat utang, harganya turun dan yield-nya naik. Itulah yang sedang terjadi serentak di banyak pasar obligasi utama dunia, dari Amerika Serikat hingga Eropa dan Jepang.
Yield Menembus Rekor Multi-Dekade
Yield obligasi Jerman bertenor 10 tahun (bund), acuan utama kawasan euro, naik 4 basis poin ke 3,378% pada Rabu (2/9) — level tertinggi sejak 2011. Yield Jepang 10 tahun berada di 3,016%, setelah menembus 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.
Sementara itu, yield obligasi Treasury AS 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak November 2023 di 4,814%, dan gilt Inggris 10 tahun mencatat rekor pasca-2008 di 5,25%, sebelum keduanya sedikit mundur.
Inflasi, Minyak, dan Suku Bunga
Investor terguncang oleh kembalinya tekanan inflasi, terutama karena gelombang konflik baru di Timur Tengah mendorong harga minyak naik. Ini menambah kekhawatiran lama soal posisi fiskal dan beban utang tinggi ekonomi-ekonomi besar dari AS hingga Jepang dan Prancis.
Bank sentral di seluruh dunia diperkirakan menyiapkan serangkaian kenaikan suku bunga bulan ini — biasanya kabar buruk bagi obligasi. Gubernur The Fed Kevin Warsh juga disebut memberi nada hawkish.
Tekanan Berlanjut ke Kuartal IV
Gelombang jual bukan cerita sehari. Sejumlah laporan pasar mencatat kenaikan yield Treasury 10 tahun pada kuartal yang berakhir September sebagai yang terbesar sepanjang abad ini. Dalam perkembangan berikutnya, yield AS 10 tahun dilaporkan sempat menyentuh 5,34%, level tertinggi sejak 2002, sebelum mereda ke sekitar 5,26% saat muncul aksi beli.
Prancis menjadi salah satu titik paling sensitif. Yield obligasi 10 tahun negara itu naik ke level tertinggi sejak 2002 dan mendekati 5%, dengan kinerja kuartalan terlemah sejak 1987. Selisih imbal hasil Prancis dan Jerman melebar ke level yang terakhir terlihat saat krisis utang zona euro, dan biaya asuransi gagal bayar utang pemerintah Prancis mencapai titik tertinggi sejak 2013. Belanja besar untuk kecerdasan buatan dan data center juga disebut menambah persaingan memperebutkan modal.
Kenapa Ini Penting Buat Kita?
Yield global yang tinggi punya efek domino luas. Biaya pinjaman mahal bisa menekan valuasi saham teknologi dan startup, serta aset berisiko termasuk kripto. Bagi Indonesia, era suku bunga tinggi AS yang berkepanjangan turut menjadi perhatian Bank Indonesia, karena bisa menekan nilai tukar rupiah dan arus modal asing.
Imbasnya terasa mulai dari biaya utang korporasi, bunga kredit konsumsi, hingga daya tarik imbal hasil surat utang domestik dibanding aset dolar. Ketika yield AS naik, investor global cenderung memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman, dan negara berkembang harus bekerja lebih keras menjaga stabilitas.
Pertanyaan yang kini muncul: seberapa jauh tekanan ini berlanjut. Pasar obligasi global kembali tertekan pada awal Oktober ketika investor menilai ulang jalur inflasi dan pertumbuhan. Untuk Prancis, muncul pertanyaan apakah ECB bisa turun tangan mendukung pasar obligasinya, meski pelaku pasar menilai langkah itu kecil kemungkinannya. Lonjakan belanja untuk AI dan data center juga dinilai menambah permintaan modal, yang turut menahan yield tetap tinggi.
Kombinasi defisit fiskal yang melebar, kebutuhan pembiayaan besar, dan ekspektasi suku bunga yang belum turun menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi pemegang obligasi. Ketika harga jatuh dan yield naik, nilai portofolio obligasi lama ikut tertekan, sehingga investor dipaksa menimbang ulang antara mengunci imbal hasil tinggi dan mengelola risiko durasi.
Yang juga perlu dicatat, tekanan ini tidak seragam. Negara dengan posisi fiskal lebih rapat dan inflasi lebih terkendali cenderung lebih tenang, sementara pasar yang dibayangi ketidakpastian politik dan anggaran mendapat hukuman lebih besar dari investor.
Dengan kata lain, obligasi kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah bertahun-tahun tenggelam oleh euforia saham teknologi.


