Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat heboh jagat AI. Lewat rangkaian unggahan di Truth Social pada Sabtu, ia mengusulkan penggantian nama Artificial Intelligence lewat sebuah polling, menyebut kekhawatiran soal keamanan AI sebagai bagian dari deretan “hoax”, lalu mengumumkan bakal membentuk AI Force dan menunjuk seorang AI czar. Trump tidak menjelaskan apa tugas keduanya.
Ganti nama AI? Trump bikin polling
Donald Trump memulai ocehannya soal AI dengan menulis bahwa “many people think that the words ‘Artificial Intelligence’ are inaccurate, and very ineloquent, relative to AI, or Artificial Intelligence.” Karena itu ia memasang polling di Truth Social supaya pengikutnya memilih nama baru untuk teknologi ini. Tiga opsi yang disediakan: Superior Intelligence, Extreme Intelligence, dan Supreme Intelligence.
Menurut TechCrunch, polling itu masih berjalan saat artikel sumber dipublikasikan, jadi belum ada nama pemenang.
Kekhawatiran soal AI disebut ‘hoax’
Beberapa jam kemudian, Donald Trump menyusul dengan klaim bahwa upaya “the decimation, or destruction, of AI” adalah satu dari “banyak” hoax Partai Demokrat, yang ia sandingkan dengan sejumlah isu lain:
“RUSSIA, RUSSIA, RUSSIA, UKRAINE, UKRAINE, UKRAINE, Global Warming, Impeachment Hoax #1, Impeachment Hoax #2, Men in Women’s Sports, [and] Transgender for Everyone.”
Trump menegaskan ia “will not stand by and let this happen”. Menurut versinya, hoax ini “began with an attack on our Data Centers, until people realized how wealthy and prestigious they were for the Communities in which they were built.” Setelah “the crazed Data Center attack has largely failed”, kata dia, para pengkritik kini “going straight at AI”.
TechCrunch mencatat Donald Trump tidak memberi bukti untuk klaimnya bahwa kecurigaan luas terhadap AI dan data center bersifat tidak organik. Baik Republik maupun Demokrat sama-sama menyasar data center, dan New York baru saja jadi negara bagian pertama yang menghentikan izin proyek besar.
Unggahan itu juga sejalan dengan komentar Donald Trump di turnamen golf akhir pekan sebelumnya. Saat itu ia bilang terbuka pada “guardrails”, tapi juga berargumen, “I think you have a lot of negative forces that are bringing it up that shouldn’t be bringing it up.”
Apa itu ‘AI Force’ dan ‘AI czar’?
Dalam unggahannya, Donald Trump menyatakan akan “cherish [the AI industry,] help it, and watch over it, as it grows”. Tapi di saat yang sama ia menyebut sedang membentuk sebuah AI Force, mirip dengan Space Force yang ia dirikan di periode pertamanya.
Soal pejabatnya, ia menambahkan: “To that end, I will be announcing, in the near future, the AI ‘Czar’ — Only High I.Q. individuals need apply!”
- AI Force — sumber tidak merinci tugas, struktur, anggaran, atau dasar hukumnya. Satu-satunya petunjuk adalah analoginya: Space Force yang dibentuk Donald Trump pada periode pertama.
- AI czar — posisi koordinator kebijakan AI di pemerintahan AS. Siapa yang akan ditunjuk belum disebut dalam sumber; Trump hanya bilang pengumumannya akan datang “in the near future”.
Sebutan “czar” bukan hal baru di pemerintahan AS. TechCrunch mengingatkan bahwa venture capitalist David Sacks mundur dari posisi AI and crypto czar Donald Trump awal tahun ini, lalu pindah jadi co-chair President’s Council of Advisors on Science and Technology.
Debat keamanan AI yang jadi latar
Konteksnya: debat keamanan AI belakangan memanas. Seorang peneliti AI menyatakan mundur dari Anthropic karena khawatir perusahaan AI terkemuka “earnestly believe it could kill us all by the end of the decade” dan sedang “gambling with our lives”. Setelah itu, CEO Anthropic Dario Amodei merilis rencana untuk “pace the frontier”, yang tampaknya didukung CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk. Kritikus industri menilai sebagian kekhawatiran soal ancaman eksistensial itu justru mengalihkan perhatian dari bahaya AI yang lebih dekat.
Dari kubu industri, CEO Nvidia Jensen Huang memanggil Donald Trump ke atas panggung dalam All-In Summit — acara yang di-co-host David Sacks — setuju bahwa backlash terhadap AI adalah “hoax”, dan menegaskan “we’re not going to let” perlambatan terjadi.
Seberapa jauh ini menyentuh regulasi AI global?
Perlu dicatat: TechCrunch tidak menyinggung Indonesia sama sekali di artikel ini. Yang bisa dibaca dari sumber hanya arah politiknya di dalam AS: pemerintahan federal mengambil posisi membela industri AI, sementara dorongan regulasi justru muncul di level negara bagian, dengan New York sebagai contoh pertama yang menghentikan izin proyek data center besar.
Untuk Indonesia, sinyal yang masuk akal untuk dipantau masih terbatas: nama pejabat AI czar belum ada, tugas AI Force belum dijelaskan, dan pengumumannya masih dijanjikan “in the near future”. Sebelum itu terwujud, isi unggahan lebih banyak soal framing politik ketimbang kebijakan teknis. Tapi karena perusahaan yang jadi aktor utama debat ini — Anthropic, OpenAI, Nvidia — adalah pemain global yang teknologinya dipakai lintas negara, arah kebijakan AI Washington tetap layak diikuti sebagai acuan pembanding saat negara lain, termasuk Indonesia, menyusun aturan sendiri.
Sumber
- TechCrunch — Trump says it’s time to rebrand AI with a new name — and he’s also creating an AI Force (Anthony Ha, 19 September 2026)


