Pemerintah China mengusulkan kontrol ekspor atas 12 teknologi pembuat panel surya, dari polisilikon sampai sel surya generasi baru. Usulan itu dibuka untuk konsultasi publik pada 16 Oktober 2026 dan belum berlaku — jadi jangan dibaca sebagai larangan yang sudah aktif.
Yang mengumumkan adalah Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) bersama Kementerian Sains dan Teknologi lewat Pengumuman Bersama No. 48 Tahun 2026. Paketnya lebih luas dari sekadar surya: 40 teknologi, terdiri dari 23 teknologi kecerdasan artifisial, 5 bioteknologi medis, dan 12 fotovoltaik.
Satu bagian sudah berjalan sejak hari pengumuman. Eksportir wajib mendaftarkan rencana ekspor teknologi yang masuk daftar ke sistem MOFCOM sebelum transfer dilakukan. Aturan registrasi sementara ini berlaku sampai katalog revisi resmi ditegakkan, dan mencakup transaksi yang sudah dimulai tetapi belum selesai.
Dua tingkat: dilarang dan dibatasi
Draf membagi teknologi surya jadi dua tingkat. Yang diusulkan dilarang adalah teknologi produksi sel tandem perovskite-silikon di wafer minimal 182 mm dengan efisiensi 30% ke atas, proses slot-die coating perovskite selebar minimal 1,1 meter, modul perovskite satu lapis berukuran minimal 1 meter persegi dengan efisiensi minimal 18%, dan modul tandem berukuran sama dengan efisiensi minimal 28%. Masuk juga wafer silikon setipis 70 mikrometer atau kurang, plus dua rute polisilikon fluidized-bed: triklorosilan berbasis cold-hydrogenation berkapasitas minimal 250.000 ton per tahun per lini, dan proses berbasis silane minimal 20.000 ton per tahun.
Yang dibatasi — boleh diekspor asal dapat lisensi — justru menyentuh teknologi arus utama: rekayasa pabrik polisilikon untuk lini minimal 30.000 ton per tahun, penarikan kristal dan pemotongan wafer, serta proses sel TOPCon, back-contact, dan heterojunction (HJT). Draf juga mencakup teknologi pembuat peralatan inti yang membawa proses-proses itu.
Alasan resminya: keamanan nasional
MOFCOM beralasan teknologi surya makin dipakai di sektor sensitif seperti kedirgantaraan dan pertahanan. Satu butir di draf memang pas dengan alasan itu: teknologi untuk sel p-type heterojunction diuji pada kondisi cahaya AM0, yang relevan untuk aplikasi antariksa.
Kementerian menyebut pembatasan bertujuan “menjaga agar teknologi tidak lepas kendali atau tersebar secara tidak semestinya, sekaligus melindungi pertukaran dan kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi internasional yang normal.”
MOFCOM juga menegaskan usulan ini tidak menyasar negara, wilayah, atau perusahaan tertentu. Teknologi yang berada di bawah ambang batas, serta produk jadi yang dibuat dengan teknologi tersebut, berada di luar cakupan draf.
Kenapa dampaknya besar
Yang dikontrol adalah resep pabriknya, bukan panel jadinya, sehingga ekspor modul dan sel tetap boleh berjalan. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pangsa China di seluruh tahap manufaktur panel surya — polisilikon, ingot, wafer, sel, sampai modul — sudah di atas 80%. Artinya siapa pun yang mau membangun pabrik di luar China hampir selalu butuh teknologi, mesin, atau teknisi dari sana.
Reuters mencatat usulan ini berpotensi mengganggu rencana perusahaan Amerika seperti Tesla untuk memperluas produksi di AS, dan bahwa Beijing sudah pernah membatasi transfer teknologi pembuatan surya ke India. Analis menilai China sedang berupaya mempertahankan dominasinya, justru saat India membangun manufaktur dalam negeri.
Pandangan dari luar China
Analisis Shanghai Metals Market (SMM) menempatkan pertanyaan praktisnya di pabrik-pabrik luar China: apakah mereka bisa menaikkan kapasitas dan melakukan upgrade sesuai jadwal? Menurut SMM, konstruksi yang selesai dan produksi yang mulai berjalan tidak otomatis berarti output stabil di kapasitas desain — kelanjutan transfer teknologi lintas batas menentukan seberapa cepat kapasitas terpasang berubah jadi pasokan nyata.
pv magazine menambahkan gambaran jangka pendeknya: proyek manufaktur PV di luar China bisa tertunda, biaya kepatuhan naik, dan akses ke teknologi produksi China yang paling canggih menyempit. Dalam jangka panjang, kontrol ini bisa memperkuat posisi China di manufaktur PV mutakhir — tetapi sekaligus menyulitkan ekspansi internasional pabrikan China sendiri dan berpotensi memicu ketegangan dagang.
Yang perlu dicatat
Statusnya masih usulan. Konsultasi publik ditutup 15 November 2026, dan itu bukan tanggal implementasi — pengumuman ini tidak menyebut kapan katalog final mulai berlaku. Registrasi pra-ekspor pun hanya kewajiban administratif, bukan jaminan izin ekspor bakal dikabulkan. Seperti ditulis SMM, draf konsultasi sebaiknya tidak diperlakukan sebagai daftar larangan yang sudah final.
Untuk pembaca di Indonesia, poin pentingnya bukan harga panel jadi yang mungkin tetap murah, melainkan jalur transfer teknologinya. Kalau katalog finalnya sedekat draf ini, negara yang sedang mengejar manufaktur surya sendiri akan berhadapan dengan proses lisensi yang lebih panjang dan lebih mahal.
Foto: Pfc. Jeremiah Handeland / U.S. Marine Corps via Wikimedia Commons (public domain) – ilustrasi ladang surya, bukan fasilitas di China.


