Brent Turun ke US$115,79 Usai Sentuh Tertinggi 6 Bulan

feat brent

Harga minyak mentah dunia mulai mengendur pada perdagangan awal Senin (26/10), setelah akhir pekan lalu melonjak ke level tertinggi dalam hampir enam bulan. Brent berjangka turun 93 sen atau 0,8% menjadi US$115,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 99 sen atau 0,96% ke US$102,28 per barel pada pukul 23.15 GMT atau Senin pukul 06.15 WIB.

Penurunan itu terjadi setelah Jumat (23/10) ditutup dengan kenaikan tajam: Brent naik 3,1% ke US$116,72 per barel — nyaris menyentuh US$117 — dan WTI naik 3,8% ke US$103,27 di New York. Sepanjang pekan lalu Brent bertambah sekitar 6%.

Pemicunya serangan di Arab Saudi

Lonjakan akhir pekan dipicu serangan kelompok Houthi yang didukung Iran ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, Arab Saudi. Kelompok itu juga mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap ladang minyak dan bandara di kerajaan tersebut.

Kekhawatiran pasar bukan cuma pada volume minyak yang hilang, tapi pada kemungkinan konflik melebar ke jalur pelayaran dan fasilitas ekspor. Itu sebabnya harga bergerak lebih cepat daripada kemampuan pasar menilai kerusakan sebenarnya.

“Kekhawatiran akan eskalasi konflik selama akhir pekan turut mendorong kenaikan harga. Para pedagang merasa cemas, meskipun para analis geopolitik meremehkan kemungkinan tersebut.” — Rebecca Babin, pedagang energi senior CIBC Private Wealth Group

Harga sudah naik 85% sepanjang tahun

Yang membuat situasi ini berbeda dari gejolak biasa: Brent sudah naik lebih dari 85% sepanjang 2026, akibat perang AS–Iran yang kini mendekati bulan kesembilan. Harga produk olahan naik lebih cepat lagi, terutama solar — jenis bahan bakar yang paling langsung terasa di biaya logistik dan transportasi.

Anomali yang perlu dicatat: arus minyak yang melewati Selat Hormuz belakangan justru melonjak, sehingga harga di pasar fisik tertekan, sementara kontrak berjangka tetap naik. Artinya, sebagian kenaikan harga saat ini dibentuk oleh ekspektasi dan premi risiko, bukan oleh kelangkaan pasokan yang benar-benar terjadi.

Artinya buat Indonesia

Pergerakan Brent mingguan seperti ini bukan angka jauh di layar bursa. Harga minyak mentah dunia adalah salah satu masukan utama dalam penetapan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipakai pemerintah menghitung penerimaan negara dan beban subsidi energi.

Ketika ICP bergerak naik dalam waktu lama, tekanannya datang dari dua arah sekaligus: belanja subsidi dan kompensasi di APBN membengkak, sementara penerimaan dari sektor migas tidak serta-merta ikut naik karena produksi dalam negeri terus menurun. Selisih itu yang biasanya diselesaikan lewat realokasi anggaran atau penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Efek keduanya adalah inflasi. Solar dan bahan bakar industri yang lebih mahal merambat ke ongkos angkut, lalu ke harga pangan dan barang konsumsi. Dalam kondisi rupiah yang sedang tidak kuat, kenaikan harga minyak global juga menambah tekanan pada neraca dagang dan cadangan devisa.

Yang perlu dipantau

Tiga hal layak diikuti dalam beberapa hari ke depan. Pertama, apakah serangan terhadap infrastruktur Saudi berlanjut, karena itu menentukan apakah premi risiko bertahan atau menguap. Kedua, arah arus tanker di Selat Hormuz — selama pasokan fisik tetap lancar, kenaikan harga kontrak berjangka punya batas. Ketiga, apakah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya memutuskan menambah pasokan, langkah yang selama ini mereka tahan.

Untuk sekarang, pasar memilih berhenti sejenak: turun tipis, tapi belum berani meninggalkan level US$115. Posisi itu menunjukkan investor belum yakin risiko geopolitiknya sudah selesai — hanya sedang menunggu kabar berikutnya.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top