SoftBank akhirnya menentukan lokasi untuk salah satu taruhan AI terbesarnya di Asia Tenggara. Masayoshi Son memilih Sarawak—tepatnya Kuching—dan Semenanjung Malaysia sebagai basis investasi senilai US$50 miliar, mencakup kecerdasan artifisial, teknologi baru, dan data center.
Angka itu diungkap langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam pidato di Melaka, Sabtu (24/10). Menurut Anwar, Son menyampaikan pilihannya lewat konferensi video pada Selasa sebelumnya. “Dia bilang sudah memilih Sarawak—Kuching—dan Semenanjung Malaysia untuk memperluas investasi yang akan jadi salah satu yang terbesar di kawasan, senilai US$50 miliar,” kata Anwar.
“Bidangnya apa? Kecerdasan artifisial, teknologi baru, dan data center.” — Anwar Ibrahim
Sampai berita ini ditulis, SoftBank belum memberikan komentar resmi. Juru bicara perusahaan tidak menanggapi permintaan keterangan di luar jam kerja. Jadi statusnya: diumumkan oleh pemerintah Malaysia, belum dikonfirmasi pihak SoftBank sendiri.
Malaysia bukan pilihan acak
Malaysia sudah beberapa tahun jadi tujuan utama data center di Asia Tenggara, dengan Amazon, Microsoft, dan Google sebagai penyewa besar. Otoritas Pembangunan Investasi Malaysia (MIDA) mencatat investasi terkait data center sepanjang 2021 sampai semester I 2026 mencapai RM385,7 miliar, atau sekitar US$94 miliar.
Pemerintah Malaysia sekarang mencoba memeras nilai lebih dari gelombang itu. Operator data center didorong memakai pemasok lokal, sementara infrastrukturnya diarahkan untuk mempercepat adopsi AI dan menciptakan pekerjaan berketerampilan tinggi. Malaysia memasang target menjadi “AI nation” pada 2030.
Anwar juga menyebut bahwa kemampuan Malaysia menarik investasi bergantung pada kepercayaan terhadap pemerintah dan stabilitas politik—kalimat yang, tanpa perlu disebut eksplisit, diarahkan sebagai pembanding terhadap negara lain di kawasan. Investasi ini diharap menciptakan lapangan kerja baru, terutama untuk angkatan kerja muda.
Bukan taruhan tunggal
Bagi SoftBank, US$50 miliar di Malaysia adalah tambahan dari rangkaian proyek yang sudah berjalan. Perusahaan ini sedang menggarap proyek data center US$500 miliar di Ohio, Amerika Serikat—salah satu yang terbesar di dunia—serta proyek di Prancis dengan nilai hingga €75 miliar (sekitar US$84 miliar). Di Jepang, unit telekomunikasi SoftBank membangun data center di Hokkaido dan Sakai, Osaka.
Awal bulan ini SoftBank juga menandatangani perjanjian kerangka dengan mitra untuk menjajaki pengembangan infrastruktur dan ekosistem AI di Sarawak. Artinya pemilihan lokasi ini bukan keputusan mendadak, melainkan kelanjutan dari pembicaraan yang sudah berjalan.
Yang perlu dicatat soal skala
US$50 miliar menempatkan proyek ini di antara yang terbesar di kawasan—Anwar sendiri menyebutnya “salah satu yang terbesar di kawasan”. Yang jelas, perebutan lokasi data center kini bergeser dari Amerika Serikat dan Eropa ke Asia Tenggara: wilayah yang menawarkan listrik lebih murah, lahan, dan kedekatan dengan pasar digital yang tumbuh cepat.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita tetangga. Indonesia punya pasar lebih besar dan ambisi data center sendiri, tapi isu klasik masih menghantui: kesiapan listrik, ketersediaan air, kepastian lahan, dan kecepatan perizinan. Selama empat hal itu belum selesai, modal AI global akan tetap mampir dulu ke negara yang lebih cepat beres administrasinya.
Yang juga layak diwaspadai: euforia data center tidak otomatis jadi manfaat ekonomi. Malaysia sendiri sudah mulai mengoreksi diri dengan menuntut keterlibatan pemasok lokal—pelajaran bahwa nilai tambah tidak datang sendiri hanya karena gedung server berdiri.
Kerja sama Sarawak sudah dimulai sebelum ini
Pemilihan lokasi ini bukan keputusan mendadak. Awal Oktober, SoftBank menyatakan sudah menandatangani perjanjian kerangka dengan sejumlah mitra untuk menjajaki pengembangan infrastruktur dan ekosistem AI di Sarawak. Perjanjian itu juga sempat disorot lewat rencana kerja sama dengan Grab untuk membangun infrastruktur AI di wilayah yang sama.
Yang disampaikan Anwar pekan ini menaikkan skala rencananya secara signifikan: dari penjajakan kerja sama menjadi komitmen investasi senilai US$50 miliar yang mencakup Sarawak dan Semenanjung Malaysia.
Yang belum jelas
Sejumlah hal masih terbuka. SoftBank belum memberi konfirmasi resmi maupun rincian alokasi per wilayah, sehingga belum diketahui berapa porsi untuk Sarawak dan berapa untuk Semenanjung. Bentuk investasinya juga belum dirinci — apakah murni belanja modal SoftBank, lewat kendaraan investasi, atau bersama mitra lokal.
Dari sisi Malaysia, Anwar menyebut negaranya perlu memperkuat kemampuan di bidang AI, digitalisasi, semikonduktor, dan keterampilan tenaga kerja agar bisa naik dari kegiatan teknologi di sisi belakang ke segmen yang lebih bernilai tambah. Kalimat itu penting karena menunjukkan pemerintah Malaysia sadar status “tujuan data center” saja tidak otomatis membuat negaranya jadi pemain teknologi.


