Meta Dorong Kacamata Pintar Jadi Perangkat Utama
Jika ada satu hal yang paling mencolok dari ajang Meta Connect tahun ini, jawabannya bukan panggung utama atau deretan model kecerdasan buatan terbaru. Justru kacamata pintar. Perangkat itu hadir di hampir setiap sudut acara tahunan tempat Meta memamerkan perangkat keras dan produk AI terbarunya.
Karyawan Meta hingga jajaran influencer yang biasa menghadiri acara tersebut tampak datang dengan kacamata pintar menempel di wajah mereka. Sebagian besar demo yang disiapkan perusahaan pekan ini pun melibatkan perangkat tersebut. TechCrunch mencatat, Meta jelas sedang bertaruh besar pada lini kacamata pintarnya.
Kacamata Audio Tanpa Kamera
Salah satu produk yang paling menarik perhatian adalah kacamata pintar berbasis audio yang belum dirilis. Menurut TechCrunch, kacamata ini hadir tak lama setelah Meta menghadapi tuduhan menjual “pervert glasses” — sebutan sinis dari kritikus yang menilai kacamata berkamera bisa disalahgunakan untuk pengawasan diam-diam.
Kacamata baru itu dibekali enam mikrofon, tetapi tanpa kamera, dan tidak punya cara bawaan untuk merekam lingkungan sekitar. Pilihan desain ini dinilai akan sangat membantu meredakan kekhawatiran soal privasi. Bobotnya juga jauh lebih ringan dibanding kacamata pintar lain yang pernah dicoba, dan nyaman dipakai dalam waktu lama.
Staf Meta yang mendampingi sesi demo menekankan sisi hiburan dan komunikasi: pengguna bisa mendengarkan musik dengan mudah dan menerima panggilan telepon tanpa perlu meraih ponsel. Pengalaman mendengarkan musik lewat kacamata ini digambarkan lebih nyaman ketimbang memakai earbuds.
Terhubung ke Asisten Muse
Kacamata audio tersebut juga akan terhubung dengan Muse, sistem agen pribadi milik Meta yang bisa menjalankan tugas atas nama pengguna. Integrasi ini belum tersedia untuk publik dan memungkinkan pemakainya berbicara langsung ke Muse untuk memberi perintah. Meta juga berencana mempersonalisasi agen itu, sehingga pengguna dapat memilih aneka avatar digital lucu sebagai perwakilan agen saat berkomunikasi.
Dalam praktiknya, interaksi ini masih perlu penyesuaian. Pengguna harus berbicara sangat langsung ke agen dan tidak bisa mengobrol dengan orang lain di saat yang sama, karena agen mudah bingung. Pada sesi uji coba, agen sempat salah mengira percakapan sampingan sebagai perintah dan menimpa suara lawan bicara. Meski begitu, dalam konteks yang tepat, integrasi ini terlihat sangat berguna: mengirim surel, membacakan daftar tugas, atau menjawab pertanyaan apa pun selagi pengguna berbelanja atau bersantai.
Kacamata untuk Gangguan Pendengaran
Produk kedua yang diuji adalah kacamata audio untuk pengguna dengan gangguan pendengaran. Seorang anggota tim riset Meta menyebut perangkat ini sudah dikembangkan sekitar lima tahun. Keunggulan harganya menonjol: banyak alat bantu dengar dijual hingga 1.600 dolar AS, sedangkan kacamata ini akan dijual seharga 150 dolar AS.
Untuk pengujian, Meta meminta peserta memakai penutup telinga guna mensimulasikan gangguan pendengaran yang hendak diatasi perangkat tersebut. Setelah kacamata dipakai, suara lawan bicara terdengar diperkuat. Pengguna dapat berpindah antara mode terfokus, yang mengarah ke orang di depan, dan mode segala arah, yang menangkap suara dari sekeliling. Menurut TechCrunch, sekitar 50 juta orang Amerika Serikat disebut memiliki tingkat gangguan pendengaran tertentu.
Taruhan di Pasar yang Masih Mencari Pijakan
Meta tidak sendirian dalam ambisi ini, tetapi perusahaan itu paling agresif. Alih-alih bertaruh pada satu bentuk produk, Meta melempar jaring yang sangat lebar: mencoba membuat kacamatanya bergaya, fungsional, dan yang terpenting berguna. Strategi itu terlihat dari kombinasi perangkat tanpa kamera, integrasi agen AI, serta produk asistif untuk pendengaran.
“Mark Zuckerberg has made it clear that he believes smart glasses are the future, and it’s evident that his company is doing its best to fulfill that vision. But smart glasses remain a niche that has yet to truly find its footing.”
— TechCrunch, At Meta Connect, the company’s smart glasses were everywhere
Pertanyaan besarnya masih sama: apakah dunia akan mengikuti? Semua orang di Meta Connect tampak yakin begitu. Namun sebagaimana dicatat TechCrunch, kacamata pintar belum benar-benar menemukan pijakan di pasar luas. Yang jelas, Meta kini memposisikan perangkat yang dipakai di badan itu bukan sebagai aksesori pelengkap ponsel, melainkan sebagai wajah baru dari komputasi sehari-hari.


