Sony Music dan Warner Gugat Anthropic atas Dugaan ‘Kampanye Berani’ Pencurian Kekayaan Intelektual

sony warner anthropic

San Francisco — Sony Music Publishing, Warner Chappell, dan sejumlah penerbit musik besar lainnya resmi menggugat Anthropic beserta dua pendirinya, Dario Amodei dan Benjamin Mann. Gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California pada Jumat malam itu menuduh lab AI tersebut melakukan “kampanye berani” dengan mengunduh secara ilegal (torrent), menyalin (scraping), dan mengunduh karya berhak cipta secara besar-besaran.

Para penerbit menyebut tindakan itu sebagai “pencurian terang-terangan” karena memakai ribuan karya berhak cipta untuk melatih model AI andalannya, Claude. Menanggapi gugatan, juru bicara Anthropic menyatakan tegas: “Kami tidak setuju dengan klaim para penerbit dan kami akan membela diri secara kuat di pengadilan.” Kasus ini pertama kali dilaporkan Music Business Worldwide.

Bukan Kasus Pertama

Ini bukan pertama kalinya Anthropic berurusan dengan gugatan kekayaan intelektual. Sebagian pengacara yang sama juga mewakili Concord Music Group dan Universal Music Group dalam kasus yang diajukan pada Januari, serta memimpin kasus Bartz v. Anthropic yang melibatkan sekelompok penulis yang menuduh karya mereka dipakai melatih produk seperti Claude.

Dalam kasus Bartz yang menjadi tonggak, Anthropic diperintahkan membayar ganti rugi sebesar US$1,5 miliar. Hakim memutuskan bahwa meski sah secara hukum untuk memakai karya berhak cipta dalam pelatihan model, tidaklah sah jika karya itu diperoleh melalui pembajakan. Putusan itulah yang kini menjadi pijakan para penerbit musik untuk memperluas serangan hukumnya. Universal Music Group sendiri sudah menggugat Anthropic sejak 2023, dan perkara itu masih berjalan hingga kini.

Klaim Pembajakan yang Lebih Luas

Gugatan terbaru ini tercatat paling luas, dengan tuduhan “pembajakan yang mencolok” melalui torrent ilegal untuk memperoleh jutaan salinan buku — termasuk yang memuat lirik lagu dan partitur musik. Dokumen setebal 48 halaman itu menyebut sejumlah karya spesifik, seperti “Ain’t No Mountain High Enough” milik Marvin Gaye dan Tammi Terrell, sampai “All I Want for Christmas Is You” dari Mariah Carey. Laporan Asahi Shimbun menambahkan bahwa lirik dan partitur dari The Beatles, Taylor Swift, hingga Michael Jackson turut disebut dalam gugatan.

Titik tekannya jelas: cara Anthropic memperoleh data, bukan sekadar pemakaiannya. Para penerbit juga menuduh Claude bisa mereproduksi lirik berhak cipta secara “verbatim” ketika diminta, dan memakai materi itu untuk menghasilkan lirik baru yang bersaing dengan karya asli. Mereka menuntut ganti rugi statuter hingga US$150.000 per karya yang dilanggar, plus perintah pengadilan agar Anthropic berhenti memakai karya mereka.

Gugatan ini juga ikut menyeret nama dua pendirinya secara pribadi, sinyal bahwa para penerbit ingin meminta pertanggungjawaban hingga ke level individu.

Konteks dan Dampak untuk Industri Kreatif

Di sisi lain, Anthropic lewat juru bicaranya menyebut gugatan terbaru ini sekadar mengulang tuduhan lama. Namun para penerbit menegaskan bahwa bukti praktik pembajakan kini jauh lebih terdokumentasi dibanding perkara-perkara sebelumnya, sehingga mereka yakin kali ini posisinya lebih kuat di pengadilan.

Kasus ini menambah daftar panjang sengketa hukum antara industri kreatif dan pengembang AI. Bagi industri musik yang tengah bersitegang soal hak cipta, gugatan ini menjadi ujian penting. Di satu sisi, model generatif membutuhkan data latih raksasa; di sisi lain, para kreator menuntut hak eksklusif atas karya mereka dihormati.

Menariknya, dalam gugatan itu para penerbit menyindir besarnya valuasi Anthropic yang disebut mencapai US$2 triliun, dan menilai denda US$1,5 miliar sebelumnya belum cukup memberi efek jera. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa sengketa bukan lagi soal satu-dua karya, melainkan menyentuh model bisnis lab AI secara keseluruhan.

Apa Berikutnya

Hasil perkara ini berpotensi menentukan sejauh mana lab AI boleh memakai materi berhak cipta dalam membangun model generatif generasi berikutnya — sebuah preseden yang akan diawasi ketat oleh seluruh ekosistem teknologi dan industri kreatif. Bagi Anthropic, tekanan hukum datang dari banyak arah sekaligus, dari penulis, label musik, hingga penerbit. Bagaimana pengadilan menimbang antara inovasi AI dan perlindungan hak cipta pada akhirnya akan membentuk aturan main industri ini untuk bertahun-tahun ke depan.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top