Travis Kalanick Kembali ke Arena Robotaxi Lewat Startup Atoms
Travis Kalanick, pendiri Uber yang dulu dipaksa mundur dari kursi CEO, kabarnya bersiap kembali ke bisnis ride-hailing dengan mengembangkan teknologi robotaxi di startup barunya, Atoms. Detail ambisi startup ini baru terungkap lewat laporan Financial Times pekan ini.
Apa itu Atoms dan kenapa jadi sorotan?
Atoms adalah startup industrial automation dan robotics yang didirikan Kalanick pada Maret tahun ini. Startup ini langsung menggalang dana US$1,7 miliar pada Juni, dan sejak awal soal rencana bisnisnya masih diselimuti kerahasiaan. Baru lewat laporan FT, terungkap bahwa Atoms berniat melakukan perekrutan besar-besaran dan mengakuisisi beberapa perusahaan demi menjadi pemain utama di dunia autonomous driving.
Yang menarik, Uber juga masuk sebagai salah satu investor di putaran pendanaan tersebut, dengan nilai sekitar US$100 juta — dan bahkan sudah ada pembicaraan soal memakai teknologi robotaxi Atoms di jaringan ride-hailing Uber. Kalau kerja sama itu benar-benar terwujud, ini jadi momen pertama Kalanick kembali berkolaborasi dengan perusahaan yang dulu ia dirikan, sejak ia mundur dari jajaran direksi Uber pada 2019.
“Banyak hal yang seharusnya terjadi di Uber dulu, kini kami kerjakan,” kata Kalanick di sebuah acara yang digelar salah satu investor utama Atoms, Andreessen Horowitz, di San Francisco bulan ini.
Anthony Levandowski dan nuansa ‘unfinished business’
Laporan TheNextWeb juga menyebut Atoms telah merekrut Anthony Levandowski — insinyur yang kasus trade-secret-nya dulu membuat Uber harus membayar mendekati US$350 juta, dan ikut berkontribusi pada keluarnya Kalanick dari posisi CEO. Kehadiran Levandowski memperkuat kesan bahwa Kalanick memang ingin menyelesaikan “pekerjaan yang belum selesai” di ranah teknologi otonom, yang sudah mulai ia kejar sejak masih di Uber.
Meski begitu, perlu dicatat bahwa Atoms membantah sedang membangun robotaxi. Kabar ini masih berupa laporan media dan belum ada konfirmasi resmi langsung dari perusahaan.
Apa artinya buat Indonesia?
Buat pembaca Indonesia, berita ini penting sebagai sinyal arah industri — bukan karena robotaxi akan segera hadir di sini. Indonesia memang gencar mendorong adopsi kendaraan listrik, tapi kendaraan otonom tanpa sopir adalah level yang berbeda. Belum ada kerangka regulasi yang jelas untuk itu, infrastruktur yang belum merata, dan pertanyaan besar soal dampak terhadap profesi sopir.
Yang bisa dipetik adalah bahwa persaingan robotaxi global makin panas. Waymo sempat disebut unggul, Tesla baru meluncurkan Cybercab di Austin melalui rangkaian uji tertutup, dan kini eks-pendiri Uber ikut berniat masuk lagi. Ini bukan hanya perlombaan teknologi, tapi juga perlombaan modal dan akuisisi — pola yang kerap kita lihat di industri teknologi besar.
Bagi regulasi Indonesia, ini jadi catatan penting: teknologi hampir selalu bergerak lebih cepat daripada aturannya. Pertanyaan soal tanggung jawab hukum saat robotaxi terlibat kecelakaan, perlindungan data penumpang, serta kesiapan infrastruktur jalan perlu dirumuskan sebelum teknologi itu benar-benar hadir di jalanan — supaya kita tidak sekadar mengekor tanpa kesiapan.
Yang perlu dicermati
Kabar ini masih berupa laporan media dan belum dikonfirmasi resmi oleh Atoms — perusahaan justru membantah sedang membangun robotaxi. Yang jelas, langkah akuisisi dan perekrutan besar-besaran menandakan Kalanick serius menempatkan Atoms di peta autonomous driving. Untuk investor dan pengamat industri, ini momen yang layak diikuti: apakah seorang founder yang dulu “membangun” Uber kini mencoba hal serupa lewat jalur yang berbeda.
Sumber: TheNextWeb · SiliconANGLE · TechCrunch · Telset.id · Financial Times


