OpenAI sedang di ujung putaran pendanaan baru yang nilainya bisa mencapai US$30 miliar (sekitar Rp 542 triliun, dengan kurs Rp 18.076 per dolar AS) dengan valuasi pra-uang US$1,25 triliun. Angka itu belum termasuk modal baru yang masuk. Kabar ini dilaporkan CNBC dan TechCrunch pada Kamis (22/10) waktu AS, mengutip orang-orang yang mengetahui transaksi.
Yang memimpin putaran adalah investor dari Uni Emirat Arab bersama Coatue. Menurut sumber CNBC, OpenAI menyebut putaran ini sebagai langkah “opportunistic” yang berfungsi sebagai jembatan sebelum perusahaan benar-benar melantai di bursa. Target internalnya: tanda tangan investor terkumpul akhir pekan depan. Besaran akhir putaran masih dalam pembahasan.
Siapa yang masuk, dan kenapa sekarang
Diskusi ini bukan inisiatif OpenAI. Menurut CNBC, pembicaraan dibuka setelah sejumlah investor mendatangi perusahaan dengan proposal pada September lalu. Artinya permintaan datang dari sisi modal, bukan dari sisi kebutuhan mendesak OpenAI.
Pola itu masuk akal kalau dilihat dari peta kekuatan AI saat ini. OpenAI adalah nama paling mahal di sektor yang sedang menyerap belanja infrastruktur terbesar dalam sejarah teknologi. Bagi dana investasi Timur Tengah, ikut di putaran pra-IPO perusahaan seperti ini adalah cara membeli posisi di rantai pasok AI global sebelum harganya ditentukan pasar publik.
Uangnya nyambung ke komputasi, bukan cuma kas
Detail yang paling sering terlewat: bersamaan dengan putaran ini, OpenAI sedang menegosiasikan kesepakatan komersial untuk mengamankan kapasitas komputasi dari Uni Emirat Arab. Ini bukan hal baru. Februari lalu OpenAI sudah memberi tahu investor bahwa target belanja komputasinya mencapai sekitar US$600 miliar sampai 2030.
Jadi putaran ini praktis berfungsi ganda: menambah kas, sekaligus mengunci akses ke daya komputasi. Bagi perusahaan yang produknya bergantung pada daya server, kapasitas sering lebih menentukan daripada uang tunai.
IPO: sudah filing, belum ada tanggal
OpenAI sudah menyerahkan prospektus secara rahasia ke Securities and Exchange Commission (SEC) pada Juni 2026. Sampai sekarang perusahaan belum mengungkap kapan persisnya ingin mencatatkan saham.
Dua pernyataan pejabatnya cukup menggambarkan posisi mereka. Pada Agustus, CFO Sarah Friar bilang OpenAI “akan jadi perusahaan publik pada 2027”. Sebulan kemudian, CEO Sam Altman justru menyebut bahwa saat ini adalah momen yang kurang tepat untuk melantai.
Dua sinyal itu tidak bertentangan: perusahaan menyiapkan jalur IPO sambil menunggu kondisi pasar yang dianggap menguntungkan.
Anthropic berjalan di jalur yang sama
Rival terdekat OpenAI juga menyiapkan langkah serupa. Anthropic sudah mengajukan prospektus rahasia ke regulator pada Juni dan aktif bertemu calon investor. Menurut laporan yang dikutip CNBC, Anthropic mengincar valuasi US$1,5–2 triliun di penawaran perdananya. Sebagai pembanding, Mei lalu Anthropic menutup putaran US$65 miliar dengan valuasi US$965 miliar.
Kalau dua perusahaan ini benar-benar melantai dengan angka sebesar itu, ukurannya akan jauh melampaui IPO teknologi mana pun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, dua lab AI terdepan dunia akan punya harga yang ditentukan pasar publik setiap hari, bukan hasil negosiasi tertutup dengan sekelompok investor.
Artinya buat pasar dan pengguna di Indonesia
Bagi pembaca Tech Pulse ID, efeknya tidak sesederhana “startup AI dapat uang besar”. Ada tiga hal yang layak dipantau:
- Harga akses model. Tekanan untuk membuktikan pendapatan ke publik biasanya berujung pada dua hal: kenaikan harga atau paket berbayar yang lebih ketat. Developer yang membangun produk di atas API OpenAI, Anthropic, atau Google punya alasan untuk mulai menyiapkan jalur cadangan.
- Ketergantungan komputasi. Kesepakatan kapasitas dengan UAE menunjukkan bahwa kedaulatan komputasi kini jadi bahan negosiasi antarnegara dan antarperusahaan. Isu yang sama sedang jadi pembicaraan di Indonesia soal pusat data dan AI lokal.
- Arus modal. Dana Timur Tengah memimpin putaran perusahaan AI paling mahal di dunia. Itu mengubah peta siapa yang sebenarnya membiayai gelombang AI berikutnya, dan siapa yang punya hak bicara soal arahnya.
Satu catatan penting: angka US$30 miliar dan US$1,25 triliun masih bersumber dari orang-orang dekat transaksi, bukan pengumuman resmi. Nilainya bisa berubah sampai dokumen final diteken, seperti yang terjadi pada banyak putaran besar sebelumnya.
Foto: CT Cooper via Wikimedia Commons (public domain) – skyline Dubai Marina. Ilustrasi kawasan, bukan kantor OpenAI.


