Uber & Pony.ai Uji Robotaxi di London

feat uber pony ai robotaxi london

Uber dan pengembang kendaraan otonom asal Tiongkok, Pony.ai, berencana membuka layanan robotaxi di London. Keduanya menyebut pengujian robotaxi generasi ketujuh mereka akan mulai berjalan di ibu kota Inggris itu dalam beberapa pekan ke depan.

Ini bagian dari perluasan kemitraan keduanya untuk membawa mobil tanpa pengemudi ke Eropa. Uber dan Pony.ai pertama kali bekerja sama pada Mei 2025 dengan fokus awal di Timur Tengah, lalu melebar ke Eropa dengan target penyebaran 2.000 robotaxi — dimulai dari Zagreb, Kroasia.

Model yang sama seperti di Zagreb

Di Zagreb, layanan otonom itu mulai beroperasi Agustus 2026 bersama pihak ketiga: Verne. Dalam skema tersebut Pony.ai memasok sistem mengemudi otonom beserta robotaxi Arcfox Alpha T5 yang dikembangkan bersama pabrikan Tiongkok BAIC. Verne — perusahaan rintisan yang didirikan pendiri sekaligus CEO Rimac Group, Mate Rimac — memiliki dan mengoperasikan armadanya, sementara Uber menyediakan akses ke jaringan ride-hailing-nya.

Untuk London, polanya disebut mirip, meski Uber dan Pony.ai belum mengungkap siapa yang akan memiliki dan mengoperasikan armadanya. Pony.ai juga menegaskan pengujian awal tetap harus berjalan di dalam kerangka regulasi Inggris. Layanan penumpang yang sepenuhnya tanpa pengemudi baru bisa beroperasi setelah mendapat persetujuan lewat kerangka Automated Passenger Services yang dibuat berdasarkan Automated Vehicles Act 2024.

Bukan pemain tunggal di London

Pony.ai tidak akan jadi satu-satunya mitra robotaxi Uber di London. Uber juga bermitra sekaligus menanam modal di Wayve, startup self-driving asal Inggris. Wayve sudah mengangkut penumpang Uber di London dengan pengemudi pengawas, memakai 15 Ford Mustang Mach-E yang dimodifikasi dan dilisensikan Transport for London. Keduanya berencana menuju operasi sepenuhnya tanpa pengemudi, tergantung izin regulator.

“London is such a huge market with great potential. So I think competition is great,” kata Founder dan CEO Pony.ai, James Peng, kepada Zag Daily di acara MOVE 2026.

Peta persaingannya makin padat. Waymo milik Alphabet sudah mulai melakukan pengujian otonom di London dan menargetkan layanan penumpang tanpa pengemudi penuh pada akhir tahun ini. Apollo Go milik Baidu menguji robotaxi bersama Lyft, dengan target layanan publik pada 2027.

Kenapa Uber main di banyak mitra sekaligus

Uber sudah menggandeng lebih dari 30 perusahaan kendaraan otonom selama beberapa tahun terakhir dan menargetkan layanan AV di 15 kota global hingga akhir 2026, terbagi kurang lebih rata antara pasar Amerika Serikat dan internasional. Strategi banyak mitra yang sama juga dipakai di Dubai, tempat Uber punya kesepakatan terpisah dengan Baidu dan WeRide.

Uber juga menanam modal di Wayve. Pada Februari 2026 Wayve mengumpulkan US$1,2 miliar dengan investor Microsoft, Nvidia, dan Uber. Nilai putaran itu bisa membengkak sampai US$1,5 miliar berkat tambahan US$300 juta dari Uber — dan pencairannya bergantung pada realisasi penyebaran robotaxi, dimulai dari London.

Dari sisi Pony.ai, perusahaan sudah meluncurkan layanan robotaxi di empat kota Tiongkok dan mengantongi kerja sama dengan otoritas transportasi lokal untuk masuk ke pasar Eropa serta Timur Tengah, termasuk Qatar.

Yang masih harus dibuktikan

Pengujian bukan berarti layanan komersial langsung jalan. Tiga hal masih menggantung: siapa yang memiliki dan mengurus armada di London, kapan izin penumpang penuh keluar dari regulator, dan bagaimana model armada yang dioperasikan pihak ketiga seperti Verne bekerja di pasar yang jauh lebih padat dan ketat seperti London.

Bagi pengguna ride-hailing, arahnya cukup jelas: kendaraan otonom berhenti jadi eksperimen laboratorium dan mulai masuk ke jaringan aplikasi yang sudah dipakai sehari-hari. Yang perlu diikuti bukan cuma teknologinya, tapi juga siapa yang menanggung tanggung jawab dan biaya saat armadanya dioperasikan pihak lain.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top