Netflix PHK 1.000 Karyawan, Terbesar Sejak 2022

feat netflix phk 1000

Jakarta — Netflix resmi memangkas sekitar 1.000 karyawan, setara 6% dari total tenaga kerjanya. Pemangkasan ini disampaikan langsung ke para karyawan pada Rabu, 14 Oktober 2026, dan menjadi yang terbesar yang dilakukan perusahaan sejak 2022.

Kabar itu datang dari dua bos tertinggi Netflix, co-CEO Ted Sarandos dan Greg Peters, lewat email internal ke karyawan. Menurut keduanya, pemangkasan kali ini paling banyak berdampak pada tim produk, teknologi, hukum, dan SDM.

Bukan karena bisnisnya jeblok

Di sinilah letak hal yang bikin banyak orang mengernyit. Netflix sedang tidak bermasalah secara keuangan. Perusahaan masih mencetak laba yang solid dan tetap jadi pemain terbesar di industri streaming, dengan lebih dari 325 juta pelanggan di seluruh dunia.

Untuk 2026, Netflix bahkan memproyeksikan pendapatan US$51 miliar sampai US$51,4 miliar. Itu naik sekitar 13%–14% dibanding tahun sebelumnya, dengan margin operasional 31,5%. Laporan keuangan kuartal ketiga pun dijadwalkan rilis pekan depan.

Lantas, kenapa perusahaan sebesar ini masih memangkas ribuan orang?

Jawaban versi Netflix sendiri

Dalam emailnya, Sarandos dan Peters menyebut keputusan ini soal disiplin memilih prioritas. “Misi kami, menghibur dunia, sangatlah ambisius, dan untuk mewujudkannya, kami dituntut untuk disiplin dalam memprioritaskan sumber daya manusia dan aset kami,” tulis keduanya.

“Bisnis kami kuat dan terus berkembang, dan kami tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target proyeksi satu tahun penuh kami. Kami akan terus berinvestasi secara agresif pada area-area berdampak tinggi guna meningkatkan layanan kami serta mendorong pertumbuhan dan inovasi lebih lanjut.”

Mereka menegaskan bisnis perusahaan kuat dan tetap di jalur untuk mencapai proyeksi setahun penuh. Netflix juga berjanji terus berinvestasi agresif di area berdampak tinggi untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi. “Untuk melakukan hal tersebut, kami harus membuat pilihan yang terarah di seluruh lini bisnis agar kami dapat terus memberikan yang terbaik bagi para anggota, mitra, karyawan, dan investor kami,” lanjut memo itu, seperti dikutip detikINET dari CNBC.

Ada sinyal dari sang bos

Pengumuman ini tidak muncul dari ruang kosong. Beberapa minggu sebelumnya, Sarandos bicara di konferensi Bloomberg Screentime. Di sana ia mengaku Netflix “tidak tumbuh secepat yang saya inginkan”.

detikINET menyebut Netflix memang tengah menghadapi situasi paradoks: untung terus mengalir, tapi waktu tonton (watch time) pengguna stagnan. Pertumbuhan pelanggan baru belakangan lebih banyak ditopang oleh penindakan tegas atas praktik berbagi kata sandi (password sharing) dan peluncuran paket berlangganan lebih murah dengan iklan.

Ancaman terbesar disebut datang dari YouTube, belum lagi Skydance yang mulai membayangi. Skydance adalah entitas gabungan Paramount dan Warner Bros. Discovery yang berencana mengintegrasikan platform streaming keduanya, yakni Paramount+ dan HBO Max.

Dalam beberapa tahun terakhir, Netflix juga melebarkan sayap ke siaran langsung olahraga, film dokumenter, sampai gim video demi berebut atensi konsumen. Namun pada saat yang sama, mereka belum lagi merilis serial hit yang viral dan jadi bahan perbincangan hangat seperti Stranger Things dan Squid Game, yang dulu sukses mendongkrak pertumbuhan pelanggan dan jumlah penonton.

Bukan cuma Netflix

Anda juga tak perlu kaget kalau bahasa yang dipakai adalah efisiensi dan penajaman prioritas. Netflix bukan satu-satunya perusahaan media yang bergerak serupa. Bulan lalu, Disney menyatakan akan memangkas sekitar 300 karyawan, dengan mayoritas pemangkasan terjadi di divisi sumber daya manusia dan teknologi.

Artinya, punya pendapatan puluhan miliar dolar tidak otomatis membuat perusahaan berhenti merapikan struktur dan biaya. Selama pertumbuhan dianggap belum secepat yang diinginkan, menajamkan fokus jadi pilihan yang diperhitungkan — persis seperti yang disampaikan dua bos Netflix lewat emailnya.

Pesan ke karyawan

Menutup emailnya, Sarandos dan Peters mengakui keputusan ini berat. “Kami tahu perubahan seperti ini sulit, tetapi mari tetap fokus,” tulis mereka. Menurut keduanya, ini salah satu masa paling dinamis dalam sejarah industri hiburan, dan momen yang sangat cocok untuk perusahaan seperti Netflix yang dibangun di persimpangan teknologi dan hiburan.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top